Jakarta (ANTARA) - Perusahaan konsultan pajak dan asuransi, Grant Thornton Indonesia membagikan tips dan sejumlah langkah penting agar Indonesia dapat terus bersaing di panggung ekonomi global.
“Perubahan kebijakan global memang tidak bisa dihindari, tapi yang paling penting adalah bagaimana kita meresponsnya dengan strategi yang tepat agar Indonesia tetap menjadi pemain utama dalam ekonomi dunia," kata CEO Grant Thornton Indonesia, Johanna Gani dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu.
Johanna menyampaikan bahwa Indonesia perlu melakukan reformasi struktural, memperkuat kebijakan yang mendukung investor, dan meningkatkan daya saing industri lokal agar tetap kompetitif.
Ia menjelaskan, salah satu perubahan besar yang datang dari Amerika Serikat adalah kebijakan proteksionisme yang diterapkan oleh Presiden Donald Trump, di mana hal ini memengaruhi banyak negara termasuk Indonesia.
Baca juga: Grant Thornton bagikan tips kelola keuangan sambut 2025
Misalnya, kebijakan tarif impor yang lebih tinggi dan perubahan perjanjian perdagangan bisa menantang ekspor Indonesia ke AS, khususnya di sektor tekstil, manufaktur, dan komoditas unggulan seperti minyak kelapa sawit dan karet.
Namun, Johanna mengingatkan bahwa ini bukanlah alasan untuk pesimis.
“Indonesia perlu segera memperkuat hubungan dengan pasar alternatif di negara-negara Asia, Timur Tengah, dan Eropa. Ini akan membantu mengurangi ketergantungan pada ekspor ke AS,” ujarnya.
Selain itu, reformasi pajak di AS yang dirancang untuk menarik investasi kembali ke sana berpotensi mengurangi aliran investasi asing ke negara berkembang seperti Indonesia.
Namun di balik tantangan ini, ada peluang besar bagi Indonesia untuk menciptakan kebijakan yang lebih menarik seperti insentif bagi investor.
Baca juga: Lima provinsi diperkirakan bakal jadi magnet investor pada 2024
Di sektor keuangan, kebijakan suku bunga yang lebih tinggi di AS dapat memengaruhi nilai tukar rupiah, yang pada gilirannya bisa menambah tantangan bagi sektor yang bergantung pada impor dan utang dalam mata uang asing.
Namun, Grant Thornton menekankan bahwa Indonesia bisa menghadapinya dengan membangun ketahanan ekonomi, memperkuat cadangan devisa, dan menjaga kebijakan fiskal yang fleksibel.
Tak hanya itu, perubahan kebijakan bantuan luar negeri dari AS melalui USAID juga memengaruhi Indonesia.
Pengurangan anggaran ini bisa memengaruhi beberapa program sosial dan pembangunan yang selama ini didanai oleh USAID.
Baca juga: Grant Thornton prediksi dampak tapering off The Fed akan lebih ringan
“Kita bisa mencari sumber pendanaan lain dengan lebih banyak berkolaborasi dengan sektor swasta dan organisasi internasional,” ungkap Johanna.
Yang tak kalah penting adalah kebijakan energi dan lingkungan yang lebih longgar di AS. Fluktuasi harga energi seperti minyak dan batu bara tentu bisa berdampak pada ekspor energi Indonesia.
Untuk itu, penting bagi Indonesia untuk tetap fokus pada energi berbasis keberlanjutan dan memperkuat sektor ini.
Johanna menegaskan bahwa Indonesia punya banyak peluang untuk tetap bersaing di pasar global dengan memperkuat industri lokal, memperluas pasar ekspor, dan menciptakan kebijakan yang mendukung investasi.
“Sinergi antara pemerintah dan sektor swasta sangat penting dalam menghadapi tantangan ini. Dengan kebijakan yang tepat dan strategi yang adaptif, Indonesia tetap bisa tumbuh di tengah ketidakpastian ekonomi global,” katanya.
Baca juga: Grant Thornton: Pemerintah perlu teruskan edukasi terkait pajak karbon
Baca juga: Ekonomi digital dinilai jadi solusi tekan risiko inflasi meroket
Pewarta: Adimas Raditya Fahky P
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2025