Jakarta (ANTARA) - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) menegaskan komitmennya untuk terus berdiri di sisi rakyat terdampak krisis lingkungan, dalam acara pengukuhan dan reposisi organisasi di Jakarta, Kamis.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) GMNI Sujahri Somar menuturkan komitmen tersebut tidak hanya saat bencana menjadi headline atau isu utama, tetapi juga dalam advokasi jangka panjang terhadap kebijakan pembangunan yang adil dan berkelanjutan.
"Reposisi GMNI hari ini menandai satu sikap jelas, yakni krisis lingkungan adalah isu kemanusiaan dan keadilan sosial. Dalam setiap krisis, GMNI memilih untuk hadir, berpihak, dan bertindak," ucap Sujahri dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat.
Dia menekankan sikap GMNI bahwa krisis lingkungan yang melanda berbagai wilayah Indonesia, termasuk banjir dan longsor di Sumatera, bukan sekadar peristiwa alam, melainkan akibat dari ketimpangan relasi antara manusia, kebijakan, dan alam.
Ia menilai bencana ekologis yang terjadi merupakan cermin dari pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan dan keselamatan rakyat.
Ketika eksploitasi dilegalkan atas nama investasi dan pertumbuhan, kata dia, rakyat kecil selalu menjadi korban pertama dan terdengar paling terakhir.
Sebagai bentuk tanggung jawab nyata, GMNI menggalang dan menyalurkan donasi bagi korban terdampak bencana di Sumatra.
Bagi GMNI, solidaritas bukan aksi simbolik, melainkan bentuk paling awal dari perjuangan ideologis.
"Marhaenisme hidup ketika keberpihakan diwujudkan dalam tindakan," tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, GMNI pun meluncurkan REDLAB (Laboratorium Merah), sebuah laboratorium analitik media dan kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk memperkuat kaderisasi ideologis di era digital.
Peluncuran REDLAB disampaikan langsung oleh Sujahri sebagai bagian dari agenda besar reposisi GMNI, yakni kembali meneguhkan semangat marhaenisme.
Marhaenisme merupakan ideologi kerakyatan yang menolak kapitalisme dan imperialisme serta mengedepankan persatuan nasional dan kesejahteraan rakyat kecil melalui ekonomi kolektivis dan demokrasi.
Sujahri menilai medan perjuangan saat ini tidak lagi hanya berada di jalanan atau ruang kelas, tetapi juga di ruang digital yang dipenuhi algoritma, big data, dan pertarungan opini.
“Ketimpangan hari ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal informasi. Siapa yang menguasai data dan narasi, dialah yang menentukan arah kesadaran publik,” tutur Sujahri.
REDLAB hadir sebagai jawaban GMNI terhadap kebisingan zaman. Laboratorium tersebut
difokuskan pada analisis percakapan publik, pemetaan opini media serta pemanfaatan kecerdasan buatan secara etis dan ideologis.
Tujuannya bukan untuk memanipulasi, melainkan membekali kader agar mampu membaca realitas sosial secara jernih, kritis, dan bertanggung jawab.
Dari REDLAB, lahir Buletin Zaken, yaitu produk analisis media berbasis data yang membedah isu- isu publik secara rasional, serta GMNI.AI, platform kecerdasan buatan yang dirancang untuk mendemokratisasikan pengetahuan bagi kader GMNI di seluruh Indonesia.
Melalui pengukuhan, GMNI menegaskan marhaenisme tidak anti-teknologi. Sebaliknya, ideologi harus memimpin teknologi, bukan tunduk padanya.
REDLAB menjadi simbol bahwa GMNI siap menghadapi masa depan, dengan berdaulat secara ideologis, adaptif secara teknologi, dan konsisten berpihak pada rakyat.
Pewarta: Agatha Olivia Victoria
Editor: Benardy Ferdiansyah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































