FOMO dan WOM strategi pemasaran biaya minim tapi berdampak luas

3 months ago 18

Tangerang (ANTARA) - Director Asosiasi Marketing Indonesia (IMA) Sophan Supandi mengatakan Fear of Missing Out (FOMO) dan Word of Mouth (WOM) merupakan kombinasi strategi pemasaran low cost – high impact atau kecil biaya tapi berdampak luas.

Ia mengatakan WOM membangun kepercayaan jangka panjang melalui rekomendasi pelanggan, sementara FOMO mendorong keputusan pembelian lebih cepat melalui penawaran eksklusif, terbatas, dan tepat waktu.

“Strategi WOM dan FOMO bukan hanya teknik sekali pakai, tapi sebuah siklus yang terus berputar. Kuncinya ada pada ketajaman membaca tren, memahami perubahan perilaku pelanggan, dan mengeksekusi promosi pada waktu yang tepat,” ujar Sophan dalam keterangannya, Jumat.

Ia juga menjelaskan jika FOMO dinilai mampu menciptakan urgensi pembelian sekaligus meningkatkan penjualan UKM di era digital. Sebab keterbatasan modal dan akses promosi tidak boleh menjadi penghalang bagi UMKM.

"Pelanggan harus menjadi fondasi utama. Pelanggan yang puas akan loyal, menjadi advokat merek, dan menyebarkan rekomendasi secara sukarela, memperluas jangkauan UKM tanpa biaya besar," katanya.

Baca juga: Psikolog: Ubah pola pikir untuk hindari FOMO saat jeda media sosial

Baca juga: Tips pemasaran digital UMKM, maksimalkan medsos dan buat konten viral

Dedy Budiman Champion Sales Trainer sekaligus Founder Asosiasi Komunitas Profesi Sales Indonesia mengingatkan UMKM untuk tidak mudah mengeluh dan harus menguasai strategi penjualan online maupun offline agar tetap survive.

Pasalnya kemampuan mengelola penjualan di dua kanal tersebut akan menjadi kunci pertumbuhan UMKM dalam ekosistem ritel modern.

“UMKM jangan ngeluh. Meski dalam kondisi perekonomian yang dirasa tidak baik-baik saja, UMKM harus tetap belajar dan survive. Apalagi Aprindo sudah memfasilitasi kita dengan serial kelas UMKM online ini. Langit dan Bumi itu ibarat online dan offline. Jadi UMKM harus kuasai langit dan bumi,” tegas Dedy.

Pewarta: Achmad Irfan
Editor: Evi Ratnawati
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |