Jakarta (ANTARA) – Beberapa waktu lalu, harga emas pernah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (All-Time High), namun realitanya bukanlah harga emas yang naik, melainkan nilai uang kita yang sedang runtuh.
Saat ini, kita sedang berada di tengah fenomena global "The Great Repricing" atau Penilaian Ulang Besar-Besaran. Ini adalah momen di mana pasar global mulai menyadari bahwa mata uang fiat (Dolar, Euro, Yen) sedang diproduksi secara berlebihan melalui mekanisme Soft Quantitative Easing (Soft QE), sementara aset riil (Hard Assets) seperti Emas tetap langka.
Berikut pembahasan mengapa emas kembali menjadi raja, bagaimana teknologi Tokenisasi (RWA) di Pluang telah mendemokratisasi akses institusional, dan strategi apa yang harus Anda ambil untuk tidak menjadi korban dari devaluasi mata uang.
Bab 1: Mendiagnosis Penyakit Ekonomi Global: "Kecanduan" Likuiditas
Untuk memahami mengapa emas bersinar terang hari ini, kita harus melihat ke dalam ruang mesin bank sentral global.
Selama dekade terakhir, ekonomi dunia telah menjadi "pecandu" utang murah. Ketika inflasi mulai mereda, pasar berharap bank sentral akan menormalkan neraca keuangan mereka. Namun, di tahun 2026, harapan itu pupus. Beban bunga utang negara-negara maju (terutama AS) telah menjadi begitu besar sehingga mereka tidak memiliki pilihan lain selain melakukan intervensi pasar.
Inilah lahirnya rezim Soft QE, bank sentral tidak lagi mengumumkan stimulus di konferensi pers. Sebaliknya, mereka menyuntikkan likuiditas ke pasar repo dan perbankan di belakang layar untuk menjaga agar sistem tidak macet.
Hasilnya adalah peningkatan jumlah uang beredar (M2). Ini adalah inflasi moneter dalam bentuknya yang paling murni. Ketika suplai uang bertambah tanpa adanya pertambahan barang dan jasa yang setara, daya beli setiap unit mata uang tersebut pasti menurun.
Kenaikan harga emas saat ini adalah "alarm kebakaran" yang memberi tahu kita bahwa gedung mata uang fiat sedang berasap.
Bab 2: Geopolitik dan Hilangnya Kepercayaan (The Trust Deficit)
Selain faktor moneter, tahun 2026 juga ditandai dengan krisis kepercayaan institusional yang parah.
Dolar AS telah menjadi mata uang cadangan dunia selama 80 tahun karena persepsi stabilitas dan independensi hukum AS. Namun, investigasi politik terbaru terhadap Ketua The Fed, Jerome Powell, telah mengirimkan gelombang kejut ke seluruh dunia.
Investor global mulai bertanya: "Jika kebijakan moneter AS bisa diintervensi oleh kepentingan politik Gedung Putih, apakah Dolar masih aman?". Pertanyaan ini memicu tren De-Dolarisasi yang semakin cepat.
Bank sentral negara-negara berkembang (Global South/BRICS) tidak lagi bersedia memegang surat utang AS (Treasury) sebagai cadangan utama, dan memilih menjual Dolar dan membeli Emas.
Ini menciptakan "Lantai Harga" (Price Floor) struktural. Emas tidak lagi hanya dibeli oleh investor ritel yang takut inflasi, tetapi diborong oleh negara-negara berdaulat yang takut akan sanksi dan ketidakstabilan politik AS.
Bab 3: Emas 2.0: Ketika Logam Kuno Bertemu Blockchain
Emas adalah penyimpan nilai terbaik dalam sejarah, tetapi ia adalah alat transaksi yang buruk di dunia modern. Emas fisik itu berat, sulit dibagi, mahal disimpan, dan lambat dipindahkan.
Di sinilah Pluang menghadirkan revolusi melalui Real World Assets (RWA) atau Emas Tokenisasi. Dengan menghadirkan aset seperti PAX Gold (PAXG) dan Tether Gold (XAUT), Pluang menggabungkan stabilitas logam kuno dengan kecepatan internet.
Mari kita bedah keunggulan teknologinya:
- Kepemilikan Fraksional Presisi: Emas fisik biasanya dijual dalam gram atau batangan. Tokenized Gold bisa dibagi hingga 18 desimal di belakang koma. Ini memungkinkan Anda membeli emas senilai Rp10.000 atau Rp10 Miliar dengan kemudahan yang sama.
- Kecepatan Penyelesaian (Settlement Speed): Menjual emas fisik membutuhkan kunjungan ke toko, penaksiran kadar, dan tawar-menawar harga. Di Pluang, Tokenized Gold dijual dalam hitungan milidetik di pasar likuid yang buka 24/7. Dalam krisis likuiditas, akses instan ke dana tunai adalah fitur keselamatan yang tak ternilai.
- Transparansi Radikal: Di era "Trust, but Verify", investor tidak mau hanya percaya pada sertifikat kertas. Tokenized Gold berjalan di atas blockchain publik (Ethereum). Anda bisa memverifikasi sendiri bahwa token yang Anda pegang didukung 1:1 oleh emas fisik di brankas London (LBMA). Ini adalah standar transparansi tertinggi yang tidak bisa ditawarkan oleh toko emas konvensional manapun.
Bab 4: Arbitrase Regulasi: Keunggulan Pajak "Final"
Dalam strategi investasi cerdas, struktur hukum sama pentingnya dengan pemilihan aset. Di Indonesia tahun 2026, terdapat keuntungan regulasi yang sangat besar bagi investor yang memilih jalur digital/tokenisasi dibandingkan fisik.
Mari kita hitung secara naratif. Jika Anda membeli emas fisik dan menjualnya dengan keuntungan besar, keuntungan tersebut (Capital Gain) harus digabungkan dengan penghasilan gaji atau bisnis Anda dalam SPT Tahunan. Jika Anda adalah eksekutif atau pengusaha sukses, keuntungan emas itu bisa terkena tarif pajak lapisan tertinggi (hingga 35%).
Sekarang, bandingkan dengan Emas Tokenized (RWA) di Pluang. Karena aset ini dikategorikan sebagai Aset Kripto oleh regulator (Bappebti), transaksinya tunduk pada rezim Pajak Final. Tarifnya sangat bersahabat: PPh 0,1% dan PPN 0,11%. Totalnya hanya sekitar 0,21% dari nilai transaksi.
Perbedaan antara membayar 35% (progresif) dan 0,21% (final) adalah jurang pemisah yang masif bagi akumulasi kekayaan jangka panjang. Memilih jalur Pluang bukan hanya soal teknologi, tetapi soal efisiensi matematis yang tidak bisa diperdebatkan.
Bab 5: Strategi Bertahan dan Menyerang (Defense & Offense)
Berikut adalah kerangka kerja taktis untuk tahun 2026:
Langkah 1: Membangun Benteng (Akumulasi Defensif)
Gunakan fitur Auto-Invest di Pluang untuk mengakumulasi PAXG atau XAUT secara rutin. Jangan mencoba menebak harga terendah. Di pasar bullish yang didorong oleh devaluasi mata uang, harga cenderung membuat higher lows (titik terendah yang semakin tinggi). Pembelian rutin meratakan harga masuk Anda (Dollar Cost Averaging) dan menghilangkan emosi dari persamaan. Targetkan alokasi 15-20% dari total kekayaan bersih Anda di sini.
Langkah 2: Menyerang dengan Data (Trading Ofensif)
Untuk porsi modal yang lebih agresif, gunakan fitur Smart Screeners dan Web Trading. Emas di tahun 2026 akan memiliki volatilitas. Cari divergensi teknikal, misalnya jika harga emas turun namun Indeks Dolar (DXY) juga melemah, itu adalah anomali jangka pendek. Gunakan Screeners untuk mendeteksi kondisi Oversold pada grafik 1-Jam atau 4-Jam. Ini adalah titik masuk taktis untuk swing trading guna mendapatkan keuntungan jangka pendek.
Langkah 3: Asuransi Lintas Aset (Cross-Hedging)
Bagaimana jika tesis emas salah sementara waktu? Lindungi diri Anda. Di Pluang, Anda memiliki akses ke US Stock Options dan Crypto Futures. Anda bisa membeli Put Option pada saham pertambangan atau membuka posisi Short kecil pada Bitcoin Futures sebagai penyeimbang (hedge). Jika likuiditas pasar tiba-tiba kering dan semua aset jatuh (termasuk emas), keuntungan dari posisi short ini akan memberikan bantalan uang tunai (cash buffer) bagi portofolio Anda.
Menjadi Bank Sentral bagi Diri Sendiri
Dunia sedang berubah. Sistem uang fiat yang berbasis utang sedang mencapai batas matematikanya, dan bank sentral meresponsnya dengan mencetak lebih banyak uang (Soft QE).
Dalam lingkungan seperti ini, Anda tidak bisa lagi bergantung pada tabungan konvensional untuk menjaga masa depan finansial. Anda harus berpikir seperti Bank Sentral: Memegang aset riil, meminimalkan ketergantungan pada pihak ketiga, dan mengoptimalkan efisiensi biaya.
Emas adalah uang para raja, dan Tokenisasi adalah cara modern untuk memegangnya. Melalui ekosistem Pluang, Anda memiliki semua alat yang diperlukan, mulai dari akses RWA yang likuid, transparansi blockchain, hingga efisiensi pajak final, untuk menjadi "Bank Sentral" bagi kekayaan keluarga Anda sendiri.
Jangan biarkan inflasi mencuri hasil kerja keras Anda. Lakukan repricing terhadap portofolio Anda sekarang, sebelum pasar melakukannya untuk Anda dengan cara yang jauh lebih menyakitkan.
Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































