BMT Lombok Timur bangun ekosistem budi daya ikan hulu hingga hilir

1 month ago 6

Jakarta (ANTARA) - Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS) BMT Tunas Harapan Syantara (THS) di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, membangun ekosistem usaha perikanan dari hulu-hilir, yang menghubungkan pembudidaya ikan, distributor pakan, pengepul, hingga akses pasar.

Dalam siaran pers LPDB Koperasi di Jakarta, Rabu, Ketua Pengurus KSPPS BMT Tunas Harapan Syantara Sarni mengatakan melalui model usaha berbasis closed loop ecosystem, koperasi tidak hanya berperan sebagai penyedia pembiayaan, tetapi juga menjadi penghubung berbagai pelaku usaha dalam satu rantai nilai yang terintegrasi.

Menurut dia, pengembangan ekosistem tersebut dilakukan untuk memperkuat posisi anggota koperasi, khususnya pelaku usaha perikanan, agar tidak menghadapi tantangan produksi dan pemasaran secara sendiri-sendiri.

"Bagi pembudidaya ikan, mereka tidak lagi bingung mencari modal, membeli pakan, ataupun menjual hasil panennya. Semua sudah terhubung dalam satu sistem," ujar Sarni.

Saat ini, lanjut dia, sekitar 300 pembudidaya ikan telah tergabung dalam ekosistem tersebut dengan dukungan sekitar 10 pengepul yang membina puluhan pembudidaya.

Sebagian hasil produksi anggota juga telah memasok kebutuhan dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Baca juga: Koperasi Mambo Mina Mekar siap wujudkan ketahanan pangan

Baca juga: Perikanan Indonesia gandeng koperasi budi daya ikan di ajang Inabuyer

Sarni mengungkapkan kemitraan dengan LPDB Koperasi turut mempercepat pertumbuhan koperasi, terutama melalui dukungan pembiayaan dan pendampingan kelembagaan.

Menurut dia, pendampingan yang dilakukan LPDB Koperasi turut meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap koperasi. Hal itu tercermin dari peningkatan simpanan anggota, pertumbuhan aset koperasi dari sekitar Rp10 miliar menjadi Rp18 miliar, serta semakin luasnya jaringan usaha yang dibangun bersama anggota.

Selain sektor perikanan, BMT THS yang berdiri sejak 2013 tersebut juga mendukung pelaku usaha lain, seperti pengepul hasil laut dan peternak ayam petelur.

Salah satu anggota koperasi, Mahrip, yang berprofesi sebagai pembudidaya ikan, mengatakan pembiayaan dari koperasi telah membantu menjaga keberlangsungan usahanya karena skema pembayaran dapat menyesuaikan dengan siklus produksi budidaya ikan.

"Kalau pembudidaya ikan itu yang paling penting modal cepat dan pembayarannya menyesuaikan musim panen. Di BMT THS kami dibantu pembiayaan sesuai kebutuhan usaha. Cicilannya juga mengikuti siklus usaha kami, jadi tidak memberatkan," ujarnya.

Menurut dia, keberadaan koperasi membuat pembudidaya tidak lagi kesulitan memperoleh modal untuk membeli bibit maupun pakan. Selain itu, hasil panen juga memiliki pasar yang lebih jelas melalui jaringan usaha yang dibangun koperasi.

Hal serupa disampaikan anggota koperasi lainnya, Murdini, yang berprofesi sebagai pengepul ikan.

Ia memanfaatkan pembiayaan koperasi untuk membeli kendaraan operasional yang digunakan untuk memperluas distribusi hasil laut.

"Saya pernah mencoba mengajukan ke bank, tetapi belum tentu bisa disetujui. Di koperasi prosesnya lebih mudah, persyaratannya tidak rumit, dan sangat membantu usaha kami," katanya.

Murdini menyebut saat ini, usahanya memasok berbagai jenis hasil laut seperti ikan tongkol, tuna, cakalang, cumi, hingga sotong ke pasar tradisional di Lombok. Sebagian hasil tangkapan juga disalurkan ke dapur MBG, sementara ikan tuna berkualitas premium disimpan melalui fasilitas cold storage sebelum dipasarkan.

Baca juga: Menteri Trenggono: Pengelolaan KNMP dijalankan Kopdes Merah Putih

Baca juga: Wamenkop dukung peningkatan produktivitas koperasi perikanan di Bekasi

Baca juga: KUD Mino Saroyo Cilacap jadi percontohan koperasi perikanan

Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |