Binokasih hidupkan kembali napas panjang sejarah Sunda

1 hour ago 2
Keraton tidak diposisikan semata sebagai bangunan bersejarah, melainkan sebagai simpul aktivitas budaya yang hidup dan produktif.

Sumedang (ANTARA) - Kilau emas yang memancar dari balik kaca di Keraton Sumedang Larang lebih dulu memikat mata sebelum maknanya benar-benar menyentuh kesadaran.

Di balik permukaannya yang berpendar, tersimpan jejak panjang sebuah peradaban yang nyaris kehilangan wujudnya.

Ia bukan sekadar benda pusaka, melainkan penanda bahwa sejarah Sunda pernah berdiri dengan kebesaran yang nyata.

Di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang, Makuta Binokasih Sanghyang disimpan sebagai salah satu warisan terpenting dalam lintasan sejarah Sunda.

Mahkota itu memiliki berat sekitar 8 kilogram dan seluruhnya terbuat dari emas dengan nilai yang ditaksir sekitar Rp16 miliar.

“Terdapat satu masterpiece, yaitu mahkota emas dengan berat mencapai 8 kilogram. Jika dinilai dengan harga emas saat ini yang sekitar dua juta rupiah per gram, nilainya bisa mencapai sekitar Rp16 miliar," ujar Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat berkunjung ke Sumedang.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat melihat langsung Mahkota Binokasih di Sumedang, Jawa Barat. (ANTARA/Ilham Nugraha)

Namun bagi Fadli, angka sebesar itu bukanlah inti dari keberadaan Binokasih bagi sejarah Tatar Sunda.

"Namun, yang kita lihat bukanlah nilai emasnya, melainkan fakta bahwa di masa lalu kita memiliki kekayaan budaya yang luar biasa,” kata dia.

Pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami Binokasih bukan sebagai benda antik, melainkan penanda kebesaran sebuah masa karena dalam konteks sejarah Sunda.

Hal tersebut menjadi penting mengingat minimnya bukti sejarah saat ini, seperti jejak kerajaan, bentuk istana, hingga struktur fisik pusat pemerintahan nyaris tak lagi dapat ditemukan.

Di tengah keterputusan itulah, Binokasih hadir sebagai bukti fisik yang masih dapat disentuh dan menjadi salah satu artefak yang memberi tubuh pada narasi panjang peradaban Sunda.

“Sejarah Sunda itu kehilangan jejak. Jejak yang tersisa itu di antaranya batu tulis. Karena bentuk kerajaannya, istananya, tidak ada, tidak bisa ditemukan. Nah kemudian, jejak yang masih tersisa adalah Mahkota Binokasih,” ujar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

Namun, keberadaan mahkota ini lama berdiri di persimpangan antara sejarah dan legenda karena ceritanya diwariskan turun-temurun, tetapi pembuktiannya kerap dipertanyakan.

Dedi mengaku mengamati pusaka itu dalam waktu lama, sebelum akhirnya memutuskan untuk membawanya ke ranah akademik.

“Kemarin teman akademik melakukan analisis terhadap Mahkota Binokasih itu, ternyata hasil kajian akademiknya benar. Bahwa itu memang merupakan mahkota yang memiliki nilai-nilai sejarah, kemudian nilai-nilai kebendaan,” kata dia.

Legitimasi ilmiah itu kemudian diperkuat oleh penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Cogent Arts & Humanities pada 2024 dengan judul "Exploring the Sundanese culture in the Makuta Binokasih as a cultural asset of the Sumedang Larang Kingdom".

Peneliti menempatkan Mahkota Binokasih sebagai artefak budaya dengan nilai estetika, simbolik, dan politik dalam tradisi Sunda.

Kajian tersebut memperlihatkan bahwa pusaka ini bukan sekadar folklor (kisah rakyat), melainkan objek sejarah dengan landasan akademik yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dari sana, perjalanan Binokasih dibaca ulang sebagai bagian dari kronologi panjang kerajaan Sunda.

Perjalan Binokasih

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |