AS tinjau kembali pengerahan senjata jarak jauh di Jerman

3 hours ago 3

Moskow (ANTARA) - Amerika Serikat akan meninjau kembali keputusan untuk mengerahkan batalion yang dilengkapi dengan senjata jarak jauh sebagai bagian dari rencana pengurangan kehadiran militernya di Jerman, demikian laporan Financial Times, Minggu, mengutip sumber Pentagon.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Sabtu (2/5) bahwa ia berencana mengurangi jumlah pasukan Amerika di Jerman hingga lebih dari 5.000 tentara. Keputusan itu dilakukan setelah Kanselir Jerman Friedrich Merz mengkritik gaya Trump atas perang dengan Iran.

Dilaporkan pula bahwa langkah itu membahayakan upaya pengerahan senjata jarak jauh, termasuk rudal Tomahawk. Gedung Putih juga akan membatalkan keputusan mantan presiden AS Joe Biden untuk mengerahkan garnisun jarak jauh di Jerman, kata seorang pejabat Pentagon.

Pada Juli 2024, pemerintahan Biden dan Pemerintah Jerman saat itu menyepakati Amerika mulai menempatkan secara berseri atas senjata presisi tinggi AS di Jerman mulai tahun 2026, termasuk rudal standar SM-6, rudal jelajah subsonik Tomahawk, dan rudal hipersonik.

Kemudian pada Oktober 2025, Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan bahwa respons Moskow terhadap serangan Tomahawk ke wilayahnya akan serius, bahkan mungkin mengejutkan. Putin menggambarkan diskusi tentang penyediaan Tomahawk kepada Ukraina sebagai upaya eskalasi.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti

Baca juga: Kanselir Jerman ragu strategi AS-Israel di Iran akan berhasil

Baca juga: AS jamin latihan udara terbesar NATO tak ganggu udara sipil Eropa

Penerjemah: Fransiska Ninditya
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |