Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Universitas Indonesia (UI) Prof Rinaldy Dalimi mengatakan, teknologi baterai menjadi kunci transisi energi baru terbarukan (EBT), karena sifat EBT tidak stabil disebabkan sifat intermitten atau ketersediaan fluktuatif bergantung pada cuaca.
"Apabila baterai sudah ada dan murah dengan fisiknya kecil, permasalahan energi dunia 90 persen selesai," kata Rinaldy di Jakarta, Rabu, saat menjadi narasumber pada diskusi bertajuk "Transisi Energi Bukan Pilihan, Tapi Kebutuhan".
Prof Rinaldy yang juga Rektor Universitas Indonesia itu mengatakan bahwa EBT memiliki sifat tidak stabil, di mana produksinya mengikuti cuaca atau musim.
Ia menjelaskan bahwa saat ini potensi EBT yang ada di Indonesia sangat besar yaitu mencapai 3.600 gigawatt (GW) meliputi energi surya, bayu, hidro, bioenergi, panas bumi dan lainnya.
Baca juga: PLN nilai hidrogen andal dan fleksibel dalam pengembangan EBT
Akan tetapi, kata dia, EBT membutuhkan teknologi penyimpanan agar energi yang didapatkan dapat tersimpan dan bisa menjaga ketika terjadi penurunan suplai.
"Kalau baterai sudah ada, persoalan akan selesai tapi baterai yang murah. Oleh karena itu, sementara kita menunggu teknologi baterai yang murah dengan daya simpan yang besar, di situlah permasalahan transisi energi yang dialami oleh setiap negara," ujarnya.
Untuk itu, kata Prof Rinaldy, transisi energi tidak harus cepat, namun dilakukan dengan perhitungan serta penerapan teknologi yang mumpuni.
Apalagi saat ini situasi di dunia juga tidak menentu akibat gejolak geopolitik dikarenakan perang yang mengakibatkan sejumlah negara kembali menghidupkan energi fosil mereka.
Baca juga: ESDM ungkap 4 sektor pemanfaatan utama dari pengembangan hidrogen
"Kita lihat terjadinya perang, ada negara yang kembali menghidupkan PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap), ini menggambarkan bahwa net zero emission menjadi pilihan kesekian bagi suatu negara untuk membuat ketahanan energinya bisa bertahan. Jadi, ini juga yang harus dilakukan oleh PLN," katanya.
Prof Rinaldy menambahkan bahwa tidak mudah bagi PLN untuk mengikuti irama dari sektor lingkungan yang menginginkan agar energi batu bara tidak digunakan lagi, karena dampaknya akan begitu besar.
"Karena biaya untuk mengganti dari batu bara ke energi terbarukan masih mahal," ucapnya.
Pewarta: Khaerul Izan
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































