Banjarbaru (ANTARA) - Keberadaan banyak pohon berukuran raksasa di kawasan hutan hujan tropis Kahung, Desa Belangian, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel), menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap orang yang berkunjung ke kawasan ini.
Masyarakat setempat menyebut pohon tersebut sebagai benuang laki atau benung laki. Sebutan "benuang laki" muncul karena pada bagian bawah batang atau di sekitar akar pohon terdapat tonjolan yang menyerupai alat reproduksi laki-laki.
Masyarakat Desa Belangian, melalui kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun, memiliki perhatian tinggi terhadap kelestarian alam dengan menjaga dan merawat hutan. Warga tidak menebang pohon karena bagi mereka hutan beserta seluruh keragaman hayatinya merupakan anugerah tak ternilai dari Sang Pencipta.
Secara ilmiah, pohon berukuran superjumbo yang menjulang tinggi ini dikenal sebagai Duabanga moluccana. Tingginya dapat mencapai 25 hingga 45 meter dengan diameter batang lebih dari 150 sentimeter.
Tegakan hutan Kahung merupakan hutan hujan tropis purba yang didominasi jenis Dipterocarpaceae, yakni keluarga pohon berkayu besar dan tinggi yang menjadi ciri khas hutan hujan tropis di daratan Asia.
Hutan Hujan Tropis Kahung atau Lembah Kahung termasuk dalam kawasan Geopark Meratus yang kini telah diakui dunia sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark (UGGp). Kahung menjadi salah satu geosite penting di Pegunungan Meratus dan berada di bawah pengelolaan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam.
Hutan ini kaya akan keanekaragaman hayati dan telah menjadi ikon kawasan hutan dengan ekosistem yang masih terjaga dengan baik.
Baca juga: Melestarikan pohon-pohon "raksasa" di Hutan Hujan Tropis Kahung
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































