Jakarta (ANTARA) - PT Shelter Indonesia melalui platform ekosistem digital Shelter, mengintegrasikan antara teknologi dengan Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai upaya mendorong operasional klien dapat berjalan lebih terukur, transparan, dan terkendali.
Chief Executive Officer (CEO) Shelter Indonesia Hari Wahyudin mengatakan, tantangan operasional saat ini bukan lagi sekadar memastikan pekerjaan berjalan, namun juga memastikan setiap proses dapat dipantau, diukur, serta dikelola dengan lebih baik.
“Arah Shelter Indonesia ke depan adalah menjadi mitra strategis operasional yang mengintegrasikan Sumber Daya Manusia (SDM) dan teknologi, agar operasional klien dapat berjalan lebih terukur, transparan, dan terkendali,” ujar Hari sebagaimana keterangan resmi di Jakarta, Jumat.
Melalui platform tersebut, Hari menjelaskan, berbagai aktivitas dapat dipantau dan dikelola dalam satu terintegrasi, mulai dari pemantauan keamanan melalui Shelter Guard, pengelolaan cleaning service melalui Shelter Cleaning, pelacakan aktivitas penjualan melalui Sellgo, hingga pengelolaan tenaga kerja fleksibel melalui Casual Work.
“Perusahaan tidak lagi hanya hadir sebagai penyedia tenaga kerja operasional, tetapi berkembang menjadi ekosistem tenaga kerja terintegrasi yang memadukan SDM dan teknologi untuk menjawab kebutuhan klien secara lebih menyeluruh,” ujar Hari.
Chief Marketing Officer (CMO) Shelter Indonesia Nino Mayvi mengatakan bahwa pasar tidak lagi hanya mencari dukungan tenaga kerja, namun juga menuntut visibilitas, kontrol, serta transparansi yang lebih kuat dalam operasional.
“Pasar hari ini tidak hanya membutuhkan tenaga kerja, tetapi juga membutuhkan visibilitas, kontrol, dan transparansi. Karena itu, kami membangun solusi yang relevan dengan kebutuhan klien modern,” ujar Nino.
Ia menjelaskan, teknologi yang dihadirkan perseroan bukan sekadar pelengkap, melainkan alat untuk menciptakan proses kerja yang lebih terlihat, dapat ditindaklanjuti, serta berbasis data.
“Dengan sistem yang terintegrasi, klien tidak hanya menerima hasil akhir, tetapi juga memperoleh gambaran proses operasional secara lebih terbuka dan terstruktur,” ujar Nino.
Perspektif tersebut diperkuat oleh Business Consultant Shelter Indonesia Gordon John Stevenson, yang hadir memberikan pandangan dari sisi pengembangan bisnis dan pertumbuhan strategis.
“Apa yang sedang dibangun Shelter bukan sekadar digitalisasi. Ini adalah respons strategis terhadap kebutuhan pasar sekaligus penegasan yang jelas mengenai arah perusahaan ke depan,” ujar Gordon.
Menurutnya, upaya Shelter Indonesia dalam menghubungkan berbagai elemen operasional ke dalam satu sistem terintegrasi menghadirkan tiga hal penting bagi dunia usaha saat ini, yaitu visibilitas, keterukuran, dan kendali.
Melalui positioning baru bertajuk “A New Shape of Shelter Indonesia", perseroan ingin menegaskan bahwa masa depan layanan alih daya tidak lagi cukup bertumpu pada tenaga kerja semata.
Ke depan, keberhasilan operasional akan semakin ditentukan oleh kemampuan mengelola aktivitas secara terintegrasi, memantau proses secara real-time, serta membangun sistem kerja yang lebih transparan, terukur, dan berbasis data.
PT Shelter Indonesia merupakan perusahaan penyedia solusi alih daya yang mengintegrasikan SDM dan teknologi dalam satu ekosistem operasional, yang berdiri sejak tahun 2002.
Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































