Libur yang menumbuhkan

2 hours ago 2
Libur sekolah dapat menjadi jeda dari pelajaran formal. Namun, ia tidak seharusnya menjadi jeda dari perhatian, keteladanan, dan pendidikan karakter.

Surabaya (ANTARA) - Pintu sekolah menutup sementara, buku pelajaran disimpan di rak, dan alarm pagi tak lagi berbunyi terburu-buru. Bagi banyak anak, libur adalah jeda yang dinanti.

Namun, bagi keluarga, jeda itu sesungguhnya membuka pertanyaan yang lebih besar: apakah liburan hanya akan menjadi waktu kosong, atau justru ruang untuk menumbuhkan pengalaman, karakter, dan kedekatan?

Di Kota Surabaya, Jawa Timur, pertanyaan itu mendapat jawaban melalui ajakan agar masa libur sekolah tidak dimaknai sekadar berhenti belajar.

Libur semester genap tahun ajaran 2025/2026 berlangsung pada 22 Juni hingga 11 Juli, sebelum kegiatan belajar dimulai kembali pada 13 Juli. Rentang waktu itu dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk mengenali dunia di luar ruang kelas, sekaligus bagi orang tua untuk kembali hadir sebagai pendidik pertama di rumah.

Tantangannya tidak kecil. Libur sering kali berujung pada hari-hari yang dipenuhi layar gawai, permainan daring, dan perjumpaan keluarga yang justru semakin jarang. Anak berada di rumah, tetapi perhatian mereka berpindah ke dunia digital. Orang tua pun hadir secara fisik, tetapi kerap tersita pekerjaan dan notifikasi di telepon genggam.

Karena itu, gagasan mengisi liburan dengan pengalaman baru menjadi penting. Pendidikan tidak berhenti ketika bel sekolah tidak berbunyi. Ia hanya berpindah tempat, dari papan tulis ke dapur, halaman rumah, pasar tradisional, perpustakaan, kampung, hingga ruang percakapan sederhana di meja makan.

Baca juga: Surabaya hingga Singapura jadi rute penerbangan favorit libur sekolah


Jeda yang bermakna

Liburan kerap dipahami sebagai perjalanan jauh, kunjungan ke tempat wisata, atau belanja pengalaman yang mahal. Padahal, pengalaman paling berharga tidak selalu membutuhkan biaya besar. Anak dapat belajar disiplin saat membantu menyiapkan sarapan, memahami kerja keras ketika ikut berbelanja ke pasar, atau mengenal akar keluarga ketika mengunjungi kakek dan nenek.

Di kota besar seperti Surabaya, ruang belajar semacam itu sesungguhnya sangat dekat. Anak dapat diajak mengenali sejarah kota melalui museum dan kawasan cagar budaya, memahami keberagaman melalui lingkungan tempat tinggal, atau belajar kepedulian melalui kegiatan sosial di kampung. Liburan tidak harus penuh agenda, tetapi perlu memiliki arah.

Arah itu penting karena waktu luang anak bukan ruang netral. Tanpa pendampingan, waktu luang dapat mudah diisi oleh konten digital yang tidak sesuai usia, pola konsumsi berlebihan, atau aktivitas luar rumah yang berisiko. Sebaliknya, bila dikelola dengan baik, waktu luang dapat membangun rasa ingin tahu, kemandirian, dan kemampuan anak berinteraksi dengan lingkungan.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |