Manado (ANTARA) - Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) menyebutkan warga tiga kampung/desa di Kecamatan Siau Barat Utara, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara harus mewaspadai guguran lava Gunung Karangetang di Pulau Siau.
"Guguran lava masih terjadi dari puncak kawah utara Gunung Karangetang," sebut Ketua Pos PGA Karangetang, Yudia P Tatipang di Manado,Sulut, Kamis.
Yudia mengatakan, warga di tiga kampung tersebut yaitu Kampung Kinali, Kampung Hiung dan Kampung Kiawang.
"Arah guguran lava mengarah ke sana melalui Kali Sumpihi," ujarnya.
Tatipang mengatakan, walaupun guguran lava masih belum menjangkau permukiman penduduk, namun warga yang tinggal di lereng ataupun pekebun harus waspada.
"Kami terus menganjurkan agar warga mematuhi radius bahaya yang direkomendasikan," ujarnya.
Sebagaimana data pengamatan Gunung Karangetang tanggal 26 Agustus 2026, dari puncak kawah utara teramati guguran lava mencapai sekitar 700-1000 meter meluncur ke arah barat dan selatan.
Embusan asap pada kawah utara dan kawah selatan teramati putih keabuan berintensitas sedang hingga tebal setinggi sekitar 200-400 meter, condong ke arah timur laut serta terdengar suara gemuruh lemah-kuat.
Pada periode tersebut terekam sebanyak 106 kali gempa embusan, 30 kali gempa tremor non-harmonik, sembilan kali tremor harmonik, tiga kali gempa vulkanik dalam, serta lima kali gempa tektonik jauh.
Gunung Karangetang masih berstatus Waspada (Level II) dengan rekomendasi di antaranya masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 1.5 kilometer dari puncak kawah dua (kawah utara) dan kawah utama (selatan) serta area perluasan sektoral ke arah utara-barat dan barat daya sejauh 2.5 kilometer dari kawah utara.
Baca juga: BTN Bunaken segera tutup pendakian menuju puncak Gunung Manado Tua
Baca juga: Gunung Anak Krakatau erupsi dua kali pada Sabtu sore
Pewarta: Karel Alexander Polakitan
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































