PM China tiba di Tibet, 550 orang lebih belum ditemukan usai banjir

1 hour ago 2

Istanbul (ANTARA) - Perdana Menteri China Li Qiang tiba di Tibet, Kamis, usai bencana banjir bandang melanda wilayah tersebut dan lebih dari 550 orang masih belum ditemukan akibat bencana dan longsor lumpur dahsyat, lapor kantor berita China, Xinhua.

PM Li tiba di Kecamatan Gyirong, Tibet, yang secara lokal dikenal sebagai Daerah Otonom Xizang, setelah bencana melanda wilayah perbatasan tersebut.

Menurut Xinhua, Li memimpin delegasi pejabat senior untuk mengawasi operasi pencarian dan penyelamatan, menaksir kerusakan, serta menemui warga terdampak dan petugas bantuan.

Otoritas China menyebutkan lebih dari 300 warga dari sejumlah permukiman di sekitar Pelabuhan Gyirong telah dievakuasi ke lokasi aman di seluruh Kabupaten Gyirong, dengan bantuan pasukan penyelamatan dari pemeriksaan perbatasan.

Baca juga: Nepal evakuasi 336 orang, termasuk 45 warga asing, dari zona banjir

Otoritas China juga memastikan tiga orang meninggal dunia dan 558 orang masih hilang, termasuk 260 warga negara asing, setelah longsor lumpur melanda pelabuhan darat utama yang menghubungkan China dan Nepal pada Rabu (26/8).

Beijing telah mengaktifkan respons darurat tingkat I untuk menangani dampak bencana tersebut, menurut otoritas China. Sementara itu, di sisi lain perbatasan, otoritas Nepal memastikan 289 orang meninggal dunia dan melaporkan 826 orang masih belum ditemukan.

Lebih dari 1.300 orang, termasuk hampir 900 warga negara asing, masih hilang di kedua sisi perbatasan saat operasi pencarian terus berlangsung, menurut otoritas China dan Nepal.

Berdasarkan citra satelit, banjir bandang dan longsor lumpur dahsyat tersebut kemungkinan dipicu oleh bongkahan es besar yang terlepas dari gletser Himalaya sekitar 20 kilometer di sebelah timur laut perlintasan perbatasan Rasuwa-Rasuwagadhi.

Sumber: Anadolu

Baca juga: Sekitar 900 warga asing hilang usai banjir bandang Nepal

Baca juga: Banjir bandang Nepal tewaskan 289 orang, 558 masih hilang

Penerjemah: Primayanti
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |