Peta baru iklan digital 2026: Teknologi kian cerdas, kompetisi ketat

2 weeks ago 11
Tahun 2026 menunjukkan bahwa masa depan periklanan bukan hanya soal mesin yang semakin pintar, tetapi juga tentang bagaimana menjaga kemanusiaan di dalamnya

Jakarta (ANTARA) - Industri periklanan digital dunia memasuki tahun 2026 dengan arah baru yang membentuk cara masyarakat mengonsumsi informasi, berbelanja, dan berinteraksi dengan layanan digital.

Banyak perubahan yang sebelumnya hanya menjadi pembahasan pakar kini mulai memengaruhi pengalaman sehari-hari pengguna internet. Belanja iklan digital naik drastis, kecerdasan buatan (AI) mengambil peran sentral dalam pembuatan dan distribusi iklan, sementara isu privasi menjadi faktor penentu bagaimana data pengguna boleh dan tidak boleh digunakan.

Semua perubahan ini menandai bahwa dunia pemasaran bukan sekadar berubah, tetapi sedang memasuki fase baru yang akan menentukan masa depan hubungan antara merek dan konsumen.

Laporan terbaru dari Interactive Advertising Bureau (IAB) memperkirakan belanja iklan tumbuh 9,5 persen sepanjang 2026, sebuah peningkatan signifikan dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini sebagian besar disebabkan oleh semakin dominannya kanal digital seperti media sosial, dan iklan pada platform e-commerce.

IAB menyebutkan bahwa AI kini bukan lagi percobaan, melainkan fondasi utama dalam perencanaan media, eksekusi kampanye, hingga pengukuran hasil. Lima dari enam fokus utama pengiklan tahun ini berkaitan langsung dengan penggunaan AI otomatis yang mampu bekerja layaknya asisten digital di belakang layar.

Dominasi digital tersebut juga terlihat dari laporan GroupM yang memperkirakan lebih dari 70 persen total belanja iklan global kini berada di ranah digital, dengan angka yang terus meningkat. Masyarakat mungkin merasakannya melalui frekuensi iklan yang semakin personal dan relevan saat menggunakan media sosial, menonton tayangan streaming, atau sekadar mencari inspirasi belanja.

Sistem AI memungkinkan iklan-iklan itu muncul pada waktu yang tepat, dengan pesan yang seolah disesuaikan dengan kebutuhan dan minat setiap individu. Dalam konteks inilah, AI bekerja bukan sebagai alat tambahan, tetapi sebagai mesin utama yang menggerakkan seluruh ekosistem periklanan modern.

Dari seluruh perkembangan digital tersebut, retail media tampil sebagai bintang baru. Retail media adalah iklan yang muncul langsung di dalam platform belanja, seperti rekomendasi produk di marketplace yang muncul berdasarkan riwayat pencarian atau pembelian pengguna.

Fenomena ini bukan sekadar tren, melainkan transformasi besar yang mengarahkan ulang strategi banyak perusahaan. Di Amerika Serikat saja, belanja iklan retail media diperkirakan meningkat dari 60,3 miliar dolar AS pada 2025 menjadi 71,1 miliar dolar AS pada 2026, sebuah pertumbuhan tahunan hampir 18 persen, lebih cepat dibandingkan iklan media sosial maupun iklan mesin pencari.

Namun, di balik pesatnya pertumbuhan iklan digital, 2026 juga menjadi tahun ketika isu privasi digital semakin menonjol. Setelah bertahun-tahun disiapkan sebagai masa berakhirnya cookie pihak ketiga (suatu teknologi pelacak yang memungkinkan iklan mengikuti aktivitas pengguna di internet) Google akhirnya memutuskan untuk membatalkan rencana penghapusan cookie tersebut pada 2024.

Perlindungan privasi

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |