Jakarta (ANTARA) -
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar mendorong aktivasi penguatan distribusi gim lokal tumbuh berkelanjutan melalui event internasional.
“Kita tidak bisa hanya bergantung pada pasar lokal, tetapi harus melakukan aktivasi penguatan distribusi gim lokal tumbuh berkelanjutan melalui event internasional,” kata Wamenekraf Irene dalam keterangan resmi yang diterima, pada Jumat.
Menurut Irene, pentingnya penguatan pasar domestik sebagai fondasi pertumbuhan gim lokal menuju pasar global. Kemudian, peluang subsektor gim akan semakin terbuka dengan aktivasi pada event internasional.
Baca juga: Pemerintah siapkan kebijakan untuk dukung pengembangan industri gim
Ia berharap ke depannya, setiap pegiat gim lokal juga terus berkomunikasi dengan asosiasi dan masukkan tiap produk kreatif atau gim yang dibuat melalui Ekraf Hunt.
Dalam hal ini, Wamenekraf menjajaki peluang sinergi dengan Tabletoys Indonesia, board game lokal yang potensial.
Subsektor gim ini dinilai memiliki ekosistem yang bernilai tambah serta membawa identitas lokal menuju market global.
Baca juga: Wamenekraf nilai HoYo Fest 2026 bisa perkuat kreator lokal naik kelas
Gim lokal, kata dia, bukan sekadar permainan untuk hiburan, tetapi harus mendapat lisensi atau perlindungan kekayaan intelektual.
“Banyak event yang bisa kami dorong untuk tempat showcase board games bersama Tabletoys Indonesia. Dengan demikian subsektor gim bisa sukses karena memiliki nilai ekonomi dan menjadi medium edukasi,” ujar Irene.
Tabletoys Indonesia memulai perjuangan sejak 2016 melalui Board Game Store dan berlanjut ke 2017 dengan Board Game Library sebagai masa perkenalan board game dan persiapan market.
Baca juga: Ekraf x Garena pamerkan gim lokal di Festival Imlek Nasional 2026
Hingga tahun 2018, menjadi Board Game Publisher dengan meluncurkan board game lokal: Waroong Wars serta berlanjut partisipasi ke pameran internasional.
Dari sisi pejuang ekraf, Direktur Utama Tabletoys Indonesia, Martin Ang menyampaikan sejumlah tantangan yang dihadapi seperti keterbatasan distribusi gim lokal ke pasar dalam negeri serta dukungan asosiasi yang dianggap belum mewakili kepentingan para publisher gim.
Ia juga mengatakan pihaknya berfokus untuk menguatkan branding, baik lokal maupun internasional sehingga membutuhkan bantuan untuk bisa difasilitasi.
“Kami memulai dari komunitas lalu berkembang hingga bisa membawa gim Indonesia ke pasar internasional. Tabletoys Indonesia tentu harus sustain and scale up. Kami juga butuh eksistensi internasional supaya mendapat pendampingan untuk registrasi Hak Kekayaan Intelektual (HaKI),” ujar Martin Ang.
Baca juga: Kemenekraf kemukakan perlunya platform untuk mewadahi gim lokal
Baca juga: Ajang kompetisi jadi wadah eksperimen talenta digital kembangkan gim
Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































