Jakarta (ANTARA) - Pakar kesehatan dan keselamatan kerja (K3) Dr. Masjuli, M.K.K.K., menekankan pentingnya penerapan bantuan dari kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan keselamatan kerja para pekerja.
Dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa, Ketua Dewan Pengarah Kepanitiaan sekaligus penggagas Seminar Nasional bertajuk "Peran Artificial Intelligence (AI) dalam Mendukung Penerapan SMK3 dan Process Safety Management (PSM)" itu mengatakan pemanfaatan AI di era industri modern bukan lagi sekadar tren atau pilihan, melainkan sudah menjadi kebutuhan absolut perusahaan.
Pihaknya pun berkomitmen untuk segera memformulasikan konklusi seminar ini menjadi rekomendasi taktis bagi industri, khususnya sektor berisiko tinggi (high-risk), agar standardisasi K3 berbasis AI bisa dipercepat.
Baca juga: BytePlus perkuat inovasi dan daya saing perusahaan nasional
Penasihat Kepanitiaan Dr. Dwinanto Kurniawan , M.Ikom ikut mengingatkan bahwa tantangan terbesar dalam keselamatan kerja saat ini adalah proaktivitas dan kecepatan bertindak.
Menurutnya, teknologi digital terbukti mampu memangkas birokrasi pelaporan insiden secara real-time demi melindungi aset paling berharga perusahaan, yaitu keselamatan para pekerja dan seminar ini bisa menjadi langkah awal membuka kesadaran pada peserta dan pemangku kepentingan akan peran teknologi dalam mendukung keselamatan kerja.
Sementara itu, CEO Majalah Katiga Sudirgo, Dhj menyatakan komitmennya untuk terus menggaungkan literasi digital K3 ini secara masif melalui seluruh platform media Katiga agar hasil pemikiran strategis dari seminar ini dapat berdampak nyata dan menjangkau seluruh pelosok industri nasional.
Di sisi lain Wakil Direktur Utama PT.Pertamina Patra Niaga Dr.Ir. Taufik Adityawarman M.M.PMP.IPU menjelaskan bahwa AI memiliki kemampuan luar biasa dalam predictive safety untuk membaca anomali data sebelum kecelakaan atau kegagalan proses benar-benar terjadi.
Namun, dia menekankan kunci utamanya tetap ada peran manusia secanggih apapun teknologi yang dihadirkan.
"Memang diperlukan investasi untuk memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan, namun jika dilihat dari dampak dan hasilnya terutama dari aspek keselamatan dan bisnis perusahaan maka investasi tersebut tak bisa dilihat hanya dari angka," katanya.
Baca juga: Tata kelola yang adaptif dukung penggunaan teknologi sesuai kebutuhan
Baca juga: Pemerintah dorong regulasi HKI adaptif hadapi tantangan AI
Baca juga: Menekraf tekankan pekerja kreatif sikapi AI dengan bijak
Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































