Makassar (ANTARA) - Di setiap pagi dan sore hari, kawasan Barombong di selatan Makassar selalu menghadirkan pemandangan yang sama. Deretan kendaraan memanjang, klakson bersahutan, dan wajah-wajah lelah orang yang harus bertaruh waktu demi tiba di tempat kerja atau kembali ke rumah.
Warga yang hendak bekerja, mengantar anak sekolah, hingga distribusi logistik menuju daerah penyangga harus menghadapi kemacetan yang seolah menjadi rutinitas harian.
Menjelang sore, situasi serupa kembali terulang. Arus kendaraan dari arah Gowa menuju Makassar bertemu dengan kepadatan kendaraan dalam kota.
Titik Barombong berubah menjadi simpul kemacetan yang melelahkan bagi ribuan pengguna jalan setiap hari. Di tengah kondisi itu, harapan baru mulai dibangun.
Pemerintah Kota Makassar bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan sepakat mempercepat realisasi pembangunan Jembatan Kembar Barombong, proyek infrastruktur yang diyakini akan menjadi solusi penting untuk mengurai kemacetan kronis di wilayah selatan Kota Makassar.
Bagi Pemerintah Kota Makassar, pembangunan Jembatan Kembar Barombong bukan sekadar proyek fisik biasa. Jembatan ini dipandang sebagai infrastruktur strategis yang akan menghubungkan mobilitas warga Makassar dengan wilayah penyangga seperti Kabupaten Gowa dan Takalar.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, yang akrab disapa Appi, menegaskan bahwa Pemkot Makassar siap mendukung seluruh kebutuhan administrasi maupun teknis agar pembangunan jembatan dapat segera terealisasi.
“Pada dasarnya Pemerintah Kota Makassar siap mendukung segala kebutuhan, baik data, aturan maupun administrasi yang diinginkan oleh pemerintah provinsi untuk kami siapkan,” ujar Appi.
Menurut Wali Kota, persoalan utama kawasan Barombong bukan hanya soal kepadatan kendaraan, tetapi adanya bottleneck atau titik penyempitan arus lalu lintas yang menyebabkan kendaraan melambat drastis pada jam-jam sibuk.
Kondisi itu selama bertahun-tahun menjadi keluhan masyarakat. Banyak warga harus menghabiskan waktu lebih lama di jalan hanya untuk menempuh jarak yang sebenarnya tidak terlalu jauh. Karena itulah, pembangunan Jembatan Kembar Barombong diharapkan menjadi jawaban atas keresahan warga.
Pemprov siapkan Rp100 miliar
Kepala Dinas Bina Marga Sulsel, Andi Ihsan, menjelaskan bahwa pemerintah provinsi bahkan telah menyiapkan alokasi anggaran awal sebesar Rp100 miliar pada tahun anggaran 2027 untuk memulai pembangunan fisik jembatan tersebut.
Langkah itu menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur bukan sekadar proyek tahunan, tetapi investasi jangka panjang untuk masa depan masyarakat Sulawesi Selatan.
Lebih dari itu, percepatan pembangunan Jembatan Barombong juga menjadi gambaran bagaimana sebuah kota belajar menghadapi pertumbuhan urban.
Kemacetan yang terjadi selama ini sesungguhnya merupakan konsekuensi dari meningkatnya aktivitas ekonomi, pertumbuhan permukiman, dan mobilitas masyarakat di kawasan selatan Makassar.
Ketika akses jalan tidak lagi mampu menampung volume kendaraan, maka pembangunan infrastruktur baru menjadi kebutuhan mendesak.
Di sinilah pentingnya perencanaan kota yang adaptif dan berorientasi masa depan. Banyak orang yang mungkin melihat jembatan hanya sebagai fasilitas penghubung.
Padahal, dalam ilmu pembangunan wilayah, jembatan memiliki efek berantai yang sangat besar. Ketika konektivitas membaik, biaya transportasi menurun, distribusi barang menjadi lebih cepat, investasi tumbuh, dan peluang ekonomi masyarakat ikut meningkat. Pedagang kecil bisa lebih mudah menjangkau pasar.
Pekerja tidak lagi kehilangan banyak waktu di jalan. Pelajar dan mahasiswa dapat bepergian dengan lebih efisien. Bahkan sektor properti dan usaha mikro di sekitar kawasan berpotensi berkembang lebih cepat.
Inilah wajah pembangunan yang sesungguhnya, menghadirkan manfaat nyata bagi kehidupan sehari-hari masyarakat. Karena itu, proses pembebasan lahan yang kini dipercepat menjadi tahapan penting yang membutuhkan dukungan semua pihak.
Pemerintah Kota Makassar menargetkan seluruh lahan dalam status clear and clean pada Juni 2026 agar tahapan konstruksi dapat berjalan tanpa hambatan hukum maupun administrasi.
Langkah tersebut sekaligus menjadi edukasi publik bahwa pembangunan infrastruktur modern tidak hanya membutuhkan anggaran besar, tetapi juga tata kelola yang akuntabel, transparan, dan terukur.
Dalam banyak proyek di Indonesia, persoalan pembebasan lahan sering kali menjadi hambatan utama yang memperlambat pembangunan.
Namun pendekatan koordinatif yang dilakukan Pemkot Makassar dan Pemprov Sulsel memperlihatkan bahwa komunikasi antarlembaga dapat menjadi solusi untuk mempercepat pelayanan kepada masyarakat.
Semangat itulah yang menjadi kekuatan pembangunan Indonesia hari ini. Bahwa kemajuan daerah tidak lahir dari kerja satu orang, melainkan hasil gotong royong seluruh elemen pemerintahan dan masyarakat.
Di kawasan Barombong, harapan itu perlahan mulai tumbuh. Masyarakat kini tidak lagi hanya melihat kemacetan, tetapi juga membayangkan masa depan baru: perjalanan yang lebih lancar, akses ekonomi yang lebih terbuka, dan kota yang semakin terkoneksi.
Pembangunan Jembatan Kembar Barombong pada akhirnya bukan hanya proyek fisik. Ia adalah simbol optimisme bahwa persoalan kota dapat diatasi ketika ada kemauan, kolaborasi, dan keberpihakan kepada rakyat.
Di tengah laju pembangunan Indonesia yang terus bergerak maju, Makassar sedang menunjukkan bahwa infrastruktur bukan hanya tentang membangun jalan dan jembatan, tetapi membangun harapan, memperkuat persatuan wilayah, dan menghadirkan kualitas hidup yang lebih baik bagi masyarakatnya.
Dan suatu hari nanti, ketika kendaraan melintas mulus di Jembatan Kembar Barombong, masyarakat mungkin akan mengingat bahwa jembatan itu dibangun bukan sekadar untuk menghubungkan dua sisi wilayah, tetapi juga untuk menghubungkan harapan warga dengan masa depan kotanya.
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































