Makassar (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menyiapkan 300 unit pompa air sebagai langkah mitigasi menghadapi musim kemarau panjang karena dampak fenomena El Nino.
"Pompa tersebut diprioritaskan untuk membantu mengairi lahan pertanian yang mengalami kekurangan air," kata Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman
di Makassar, Minggu.
Dia mengatakan distribusi mesin pompa dan operasi pompanisasi telah dilakukan di sejumlah kabupaten. Upaya tersebut diarahkan terutama untuk menjaga produktivitas lahan pertanian padi yang terdampak kekeringan.
Menurut dia, tim sudah melakukan pembagian mesin pompa untuk beberapa kabupaten dan operasi pompanisasi air untuk wilayah pertanian padi yang terdampak kekeringan.
Penanganan kekeringan dilakukan melalui kolaborasi pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten dan kota. Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHBUN) Sulsel juga dilibatkan untuk mempercepat penanganan di lapangan.
Baca juga: Kepala Barantin pastikan layanan karantina optimal kawal ekspor udang
Baca juga: Kementan: Panen padi program PM-AAS di Sidrap tembus 11,2 ton/hektare
Sudirman mengimbau pemerintah daerah yang memiliki lahan pertanian terdampak agar segera melaporkan kondisi kekeringan melalui dinas pertanian setempat.
Laporan tersebut diharapkan dilengkapi lokasi lahan, dokumentasi kondisi sawah, sumber air yang tersedia, serta potensi lokasi sumur bor agar bantuan dapat diberikan secara tepat sasaran.
Selain pompanisasi, lanjut dia, Pemprov Sulsel menyiapkan pembangunan sumur bor untuk lahan pertanian yang mengalami kekeringan. Setiap lokasi akan terlebih dahulu melalui survei untuk memastikan ketersediaan sumber air, termasuk melalui kajian geolistrik.
Langkah tersebut dinilai penting karena Sulsel merupakan salah satu lumbung beras utama Indonesia. Gangguan produksi akibat kekeringan dikhawatirkan tidak hanya berdampak terhadap petani, tetapi juga terhadap ketersediaan pangan dan upaya mempertahankan swasembada pangan nasional.
Baca juga: Kementan percayakan Unhas produksi drone senilai Rp11 miliar
Baca juga: Ketua MKTI Sulsel: Penyelamatan hutan harus jadi gerakan bersama
Pewarta: Suriani Mappong
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































