Kota Bandung (ANTARA) - Pemerintah Kota Bandung, Jawa Barat, melakukan sosialisasi pembangunan bus rapid transit (BRT) kepada masyarakat di wilayah terdampak.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung Rasdian Setiadi mengatakan sosialisasi akan menyasar 22 kecamatan sebagai langkah awal sebelum pembangunan koridor BRT dimulai.
"Sosialisasi ini akan dilakukan secara menyeluruh di 22 kecamatan yang terdampak. Kita libatkan masyarakat mulai dari kelurahan, RT/RW, hingga pedagang kaki lima," ujar Rasdian di Bandung, Jabar, Rabu.
Menurutnya, sosialisasi dilakukan secara terintegrasi dengan menyampaikan seluruh aspek pembangunan, baik jalur on-corridor maupun off-corridor, termasuk potensi dampak yang akan muncul.
"Bukan hanya sebagian, tapi seluruh rencana kita sampaikan agar masyarakat memahami secara utuh, termasuk dampak dan penanganannya," kata Rasdian.
Ia menjelaskan jalur on-corridor sepanjang sekitar 21 kilometer menjadi wilayah yang paling terdampak, di antaranya melintasi Kecamatan Andir, Regol, dan Sumur Bandung.
Pembangunan jalur khusus BRT tersebut akan menggunakan separator sebagai pembatas lajur, dengan desain yang disesuaikan agar tidak mengganggu aktivitas di sekitarnya.
Rasdian menegaskan sosialisasi penting dilakukan agar masyarakat dapat mengetahui sejak awal perubahan yang akan terjadi di lapangan.
Dishub menargetkan kegiatan sosialisasi mulai dilaksanakan pada akhir April hingga awal Mei 2026.
Baca juga: Dishub Kota Bandung: 232 titik halte BRT mulai dibangun
Baca juga: Wali Kota Bandung hentikan seluruh izin pembangunan BRT
Baca juga: Kepala daerah Jabar-Bandung Raya uji coba bus matangkan rencana BRT
Pewarta: Rubby Jovan Primananda
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































