Ambon (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT), Maluku, bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggencarkan edukasi kepada pembudidaya rumput laut untuk meningkatkan produktivitas komoditas tersebut yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami penurunan hingga sekitar 50 persen.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Kepulauan Tanimbar Poly Matitaputty dalam keterangan yang diterima di Ambon, Rabu mengatakan penguatan kapasitas pembudidaya penting dilakukan agar persoalan yang selama ini mempengaruhi hasil produksi dapat ditangani dengan pendekatan budidaya yang sesuai dengan kondisi perairan setempat.
Menurut dia, pembudidaya perlu mendapat pendampingan mulai dari pemilihan lokasi, penggunaan bibit, pola tanam, pemeliharaan hingga penanganan rumput laut setelah panen.
"Edukasi dan penguatan kapasitas ini penting agar pembudidaya dapat memahami faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas dan menyesuaikan teknik budidaya dengan kondisi lingkungan," ujarnya.
Ia mengatakan penurunan produksi menjadi salah satu persoalan yang dibahas bersama BRIN dan masyarakat pembudidaya di Desa Lamdesar Timur, Lamdesar Barat, Kelaan, dan Keliobar.
Baca juga: KKP mengembangkan percontohan budi daya rumput laut di Maluku Tenggara
Baca juga: BDI Kemenperin latih pemuda Maluku mengolah rumput laut
Matitaputty menjelaskan sejumlah kendala yang dihadapi dalam beberapa tahun terakhir, di antaranya keterbatasan bibit berkualitas, perubahan musim, suhu dan kondisi perairan, teknik pemeliharaan, pola tanam, serta serangan penyakit.
Karena itu, pengembangan budidaya rumput laut tidak cukup hanya mengandalkan kebiasaan atau pengalaman pembudidaya, tetapi perlu didukung pengetahuan berbasis riset yang dapat disesuaikan dengan karakteristik wilayah kepulauan Tanimbar.
Dalam kegiatan tersebut, tim BRIN memberikan pemahaman bahwa keberhasilan budidaya rumput laut dimulai sejak penentuan lokasi hingga tahapan panen dan pascapanen.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah kualitas bibit. Pembudidaya didorong memilih bibit dari tanaman yang sehat, memiliki pertumbuhan baik, tidak menunjukkan gejala penyakit maupun kerusakan, serta mampu beradaptasi dengan kondisi perairan setempat.
Selain bibit, waktu penanaman juga perlu disesuaikan dengan kondisi musim. Perubahan suhu, arus, kondisi perairan, dan pola musim dapat memengaruhi pertumbuhan sekaligus meningkatkan risiko kegagalan budidaya.
Untuk itu, pendekatan kalender musim dinilai penting dikembangkan sehingga pembudidaya dapat menentukan waktu penanaman dan pengambilan bibit berdasarkan kondisi lingkungan.
Matitaputty mengatakan sinergi dengan BRIN diharapkan tidak berhenti pada kegiatan edukasi, tetapi dapat memberikan perubahan pada praktik budidaya masyarakat sehingga produktivitas rumput laut Tanimbar kembali meningkat dan usaha pembudidayaan dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Penguatan kapasitas tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong rumput laut sebagai salah satu komoditas perikanan yang mampu memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat pesisir di Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Baca juga: Pemprov NTT kembangkan lima klaster budidaya rumput laut terintegrasi
Baca juga: Rumput laut, penggerak ekonomi pesisir Sebatik Barat
Baca juga: KKP bantu Rp9 miliar untuk budidaya rumput laut di Karimunjawa Jepara
Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul Azis
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































