Malang (ANTARA) - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang, Jawa Timur (Jatim), Indra Kuspriyadi mengemukakan gejolak geopolitik dunia yang masih terus membayangi perekonomian global tak mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut.
Di tengah ketidakpastian global ini, kata Indra, Bank Indonesia tidak hanya hadir untuk menjaga stabilitas perekonomian saja, tetapi juga memastikan stabilitas tersebut agar perekonomian tetap terus tumbuh dan berkelanjutan.
"Meski terjadi ketidakpastian ekonomi global karena gejolak geopolitik, termasuk konflik di Timur Tengah, perekonomian di wilayah kerja KPwBI Malang mencatat pertumbuhan cukup signifikan, yakni 6,36 persen pada triwulan I 2026," kata Indra di Malang, Rabu
Capaian ini berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Timur maupun tingkat nasional. Di saat yang sama, laju inflasi daerah juga tetap terkendali pada rentang target sasaran 2,5 ± 1 persen.
Untuk memperkuat serta mempertahankan momentum positif tersebut, KPwBI Malang mendorong dua langkah strategis yang saling menopang, yakni pertama, pemanfaatan akselerasi digitalisasi. Integrasi teknologi digital kini menjadi sebuah keharusan, bukan lagi sekadar pilihan.
"Langkah ini diambil demi menciptakan sumber-sumber pendapatan baru bagi masyarakat dan pemerintah daerah," ujarnya.
Kedua, lanjutnya, pengembangan sumber pertumbuhan ekonomi baru. BI malang menggenjot efisiensi pada sektor lapangan usaha eksisting, sekaligus menumbuhkan sektor ekonomi kreatif berbasis teknologi digital.
Baca juga: BI Malang gencarkan ToT guru perkuat edukasi perlindungan konsumen
Baca juga: BI Malang pacu UMKM naik kelas lewat gelaran SRP 2026
Sinergi antara Bank Indonesia dan pemerintah daerah menjadi kunci utama. Potensi ekonomi baru harus digali tanpa membebani masyarakat.
”Pertumbuhan positif ini harus kita jaga bersama dengan melakukan optimalisasi teknologi dan industri kreatif agar memberikan dampak konkret serta berkelanjutan bagi kemajuan ekonomi di daerah,” ujarnya.
Pada tingkat nasional, daya tahan ekonomi domestik juga menunjukkan tren positif. Pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan II-2026 mampu menembus angka 5,29 persen.
Ia menyebutkan penguatan ekonomi daerah ke depan dapat dilakukan melalui pemanfaatan teknologi digital dan pengembangan sumber pertumbuhan ekonomi baru. Digitalisasi dinilai dapat membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat maupun pemerintah daerah.
Sementara itu, efisiensi pada sektor-sektor ekonomi yang telah berjalan perlu diikuti dengan pengembangan industri kreatif berbasis teknologi digital.
Di tingkat nasional, perekonomian Indonesia mencatat pertumbuhan 5,29 persen pada triwulan II-2026. Pertumbuhan tersebut didukung sektor perdagangan, akomodasi, dan bisnis kuliner, serta konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah melalui berbagai program strategis, dan investasi.
Sementara itu, Kepala Unit Implementasi Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran BI Malang Shomita F. Insany mengatakan peran Bank Indonesia dalam perekonomian tidak hanya berkaitan dengan stabilitas harga dan nilai tukar sesuai mandat BI dalam Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK), yang mencakup kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
Untuk menjalankan mandat tersebut, BI menerapkan bauran kebijakan atau policy mix yang mencakup kebijakan moneter, makroprudensial dan sistem pembayaran.
Dari sisi moneter, BI mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen. Kebijakan tersebut untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mempertahankan daya tarik investasi
Wilayah kerja KPwBI Malang mencakup tujuh kabupaten dan kota, yakni Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu, Kabupaten Pasuruan, Kota Pasuruan, Kota Probolinggo dan Kabupaten Probolinggo itu mencatat pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata Jawa Timur dan nasional pada periode tersebut. Sementara inflasi daerah masih berada dalam rentang sasaran 2,5±1 persen.
Baca juga: BI Malang jembatani tradisi dan transaksi dengan Qrisma Fest 2026
Baca juga: BI Malang perkuat peran "cash handler" cegah peredaran uang palsu
Pewarta: Endang Sukarelawati
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































