Muara Teweh (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Barito Utara, Kalimantan Tengah, meningkatkan status menjadi tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berlaku mulai 18 September sampai 2 Oktober 2026.
"Peralihan status ini harus kita maknai sebagai bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan dan kewaspadaan. Meskipun kondisi kedaruratan dapat berangsur membaik, potensi terjadinya karhutla tetap harus kita antisipasi,” kata Bupati Barito Utara Shalahuddin di Muara Teweh, Jumat.
Menurut Shalahuddin, perubahan status dari siaga menjadi tanggap darurat ini harus dimaknai sebagai bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan dan kewaspadaan seluruh pihak terhadap potensi karhutla.
Berbagai faktor yang dapat memicu maupun memperluas kebakaran harus menjadi perhatian bersama antara lain kondisi cuaca dan curah hujan, tingkat kekeringan vegetasi dan lahan, titik-titik rawan kebakaran, serta aktivitas masyarakat yang berpotensi menimbulkan sumber api.
Baca juga: Pemkab Barito Utara perkuat mitigasi karhutla hadapi potensi bencana
"Pencegahan harus menjadi prioritas utama dalam penanganan karhutla. Penanganan yang cepat memang sangat diperlukan ketika kebakaran terjadi, tetapi upaya mencegah munculnya titik api akan jauh lebih efektif dalam mengurangi dampak yang ditimbulkan,” kata Bupati Shalahuddin.
Shalahuddin meminta seluruh jajaran terkait terus melakukan pemantauan, deteksi dini, pencegahan dan penanganan secara cepat serta terkoordinasi.
“Setiap informasi mengenai potensi maupun kejadian karhutla harus segera ditindaklanjuti, sehingga api dapat dikendalikan sedini mungkin dan tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas,” katanya.
Bupati juga menekankan pentingnya memastikan seluruh sumber daya yang dimiliki pemerintah daerah dan unsur terkait berada dalam kondisi siap digunakan apabila sewaktu-waktu diperlukan.
Baca juga: BPBD Barito Utara serahkan sarpras MPA untuk antisipasi karhutla
“Keberhasilan penanggulangan karhutla tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memadamkan api, tetapi juga oleh seberapa kuat kita melakukan pencegahan dan seberapa cepat kita merespons setiap potensi ancaman,” ucap Shalahuddin.
Bupati Barito Utara menjelaskan ancaman karhutla di daerah ini mendapat perhatian serius pemerintah daerah. Kondisi tersebut semakin perlu diantisipasi menyusul prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga awal 2027.
Seluruh perangkat daerah dan unsur terkait harus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla, terutama di tengah kondisi cuaca yang cenderung kering.
“Kita harus meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan. Jangan sampai ketika api sudah membesar baru kita bergerak. Pencegahan, deteksi dini dan respons cepat harus menjadi perhatian bersama,” kata Bupati Shalahuddin.
Baca juga: Kalimantan Tengah tetapkan status tanggap darurat karhutla
Pewarta: Kasriadi
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































