Menko Pangan: Daerah darurat jadi prioritas penanganan sampah

1 hour ago 2
TPAS Galuga termasuk yang kondisinya darurat. Karena itu, yang kita dahulukan adalah daerah-daerah yang darurat dan memberikan dampak buruk bagi masyarakat

Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengatakan pemerintah memprioritaskan daerah dengan kondisi persampahan darurat dalam penanganan dan pembangunan fasilitas pengolahan sampah.

Salah satu wilayah yang menjadi prioritas ialah Bogor Raya melalui pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) dan pirolisis di kawasan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Galuga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

“TPAS Galuga termasuk yang kondisinya darurat. Karena itu, yang kita dahulukan adalah daerah-daerah yang darurat dan memberikan dampak buruk bagi masyarakat,” kata Zulhas dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Jumat.

Ia menyatakan hal tersebut dalam acara Peresmian Pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Bogor Raya 1 di TPAS Galuga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (17/9).

Menurut dia, persoalan sampah dalam skala besar membutuhkan keterlibatan pemerintah pusat bersama pemerintah daerah sehingga penanganannya tidak hanya dibebankan kepada satu wilayah.

“Persoalan sebesar ini tidak mungkin diselesaikan Bogor sendiri. Pemerintah pusat harus turun dan kita kerjakan bersama-sama,” ujar dia.

Penanganan sampah di Galuga dilakukan melalui dua skema. PSEL diarahkan untuk mengolah sampah baru yang masuk setiap hari menjadi energi listrik, sedangkan teknologi pirolisis digunakan untuk menangani timbunan sampah lama.

Zulhas mengatakan integrasi kedua teknologi tersebut dalam satu kawasan ditujukan agar penanganan tidak hanya menghentikan pertambahan timbunan baru, tetapi juga secara bertahap mengurangi sampah yang telah menumpuk selama bertahun-tahun.

Baca juga: PSEL Galuga bakal gunakan teknologi insinerator dari China

Baca juga: PSEL Galuga serap investasi 160 juta dolar AS

“Ini yang pertama di Indonesia. Sampah yang datang setiap hari kita selesaikan melalui PSEL menjadi energi listrik. Tetapi kita tidak berhenti di sana. Sampah lama yang sudah bertahun-tahun menumpuk juga harus kita tuntaskan dengan teknologi pirolisis,” ucap Menko.

PSEL Bogor Raya ditargetkan mampu mengolah sekitar 1.500 ton sampah baru per hari yang berasal dari Kabupaten Bogor dan Kota Bogor.

Sampah tersebut akan dikonversi menjadi energi listrik berkapasitas sekitar 20–30 megawatt (MW), dengan PT PLN (Persero) sebagai penyerap listrik atau offtaker.

Sementara itu, teknologi pirolisis diarahkan untuk mengolah sekitar 700–1.000 ton timbunan sampah lama per hari dari TPAS Galuga sehingga beban sampah yang telah terakumulasi dapat dikurangi secara bertahap.

Berdasarkan data yang disampaikan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kabupaten Bogor menghasilkan sekitar 3.000 ton sampah per hari, sedangkan Kota Bogor menghasilkan sekitar 700–1.000 ton per hari.

Selain membangun fasilitas pengolahan, Zulhas mengatakan pemerintah melakukan konsolidasi lintas kementerian dan lembaga serta menyederhanakan prosedur untuk mempercepat pembangunan fasilitas di daerah yang membutuhkan penanganan segera.

Menurut dia, proses yang panjang dan kompleks selama sekitar 11 tahun menjadi salah satu faktor yang membuat pembangunan fasilitas pengolahan sampah belum berkembang sesuai kebutuhan.

“Dulu penanganan sampah rumit karena masing-masing berjalan sendiri-sendiri. Atas perintah Presiden kemudian dilakukan penyederhanaan prosedur dan aturan. Kita ingin masalah sampah diselesaikan, bukan dipersulit oleh aturan,” tutur Zulhas.

Pembangunan PSEL Bogor Raya merupakan salah satu dari tiga proyek PSEL gelombang pertama yang telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN), bersama PSEL Kota Bekasi dan PSEL Denpasar Raya.

Bogor Raya memiliki pendekatan yang menggabungkan pengolahan arus sampah baru melalui PSEL dan pengurangan timbunan sampah lama melalui pirolisis dalam satu kawasan.

Pemerintah berharap pendekatan tersebut dapat menjadi salah satu model pengelolaan sampah terpadu, sehingga sampah baru tidak terus menumpuk sementara timbunan lama dapat dikurangi secara bertahap.

“Kita ingin membuktikan bahwa persoalan sampah bisa diselesaikan secara tuntas. Sampah baru menjadi energi listrik, sampah lama kita bereskan menjadi bahan bakar untuk diesel. Kalau model ini berhasil, Bogor bisa menjadi contoh bagaimana Indonesia menyelesaikan persoalan sampah secara menyeluruh,” kata Menko Pangan.

Baca juga: Pemkab Bogor serahkan 10 hektare lahan untuk PSEL Galuga

Baca juga: Menko Zulhas: PSEL Denpasar Raya perkuat daya saing pariwisata Bali

Pewarta: Aria Ananda
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |