Pakar Unand ungkap penyebab Indonesia masih tergantung kedelai impor

2 weeks ago 5
Kondisi tanah yang masam juga menghambat aktivitas bakteri penambat nitrogen pada akar kedelai. Akibatnya, tanaman kekurangan nitrogen yang penting untuk pembentukan protein

Kota Padang (ANTARA) - Pakar Ilmu Tanah dari Universitas Andalas (Unand), Sumatera Barat (Sumbar), Prof Dian Fiantis mengungkapkan faktor kesuburan tanah dan iklim turut mempengaruhi budi daya kedelai nasional yang berdampak Indonesia hingga kini masih bergantung pada impor.

"Persoalan kedelai nasional tidak sekadar terkait produksi, tetapi berakar pada kondisi tanah, iklim tropis, serta sistem budi daya yang belum optimal," kata Prof Dian Fiantis di Kota Padang, Senin.

Ia menjelaskan kondisi tanah tropis di Indonesia umumnya bersifat masam, kurang bahan organik, serta memiliki kandungan besi dan aluminium tinggi yang dapat mengikat unsur hara penting seperti fosfor. Hal ini menjadi tantangan utama budi daya kedelai yang merupakan bahan baku utama tahu dan tempe.

Baca juga: Bapanas awasi importir dan distributor kedelai agar sesuai HAP

Padahal, kata dia, fosfor berperan penting dalam pembentukan energi tanaman untuk proses pengisian biji. Kekurangan unsur ini menyebabkan hasil kedelai tidak optimal meskipun tanaman terlihat tumbuh normal.

"Kondisi tanah yang masam juga menghambat aktivitas bakteri penambat nitrogen pada akar kedelai. Akibatnya, tanaman kekurangan nitrogen yang penting untuk pembentukan protein," kata Prof Dian.

Ia mengatakan produktivitas kedelai nasional masih tertinggal jika dibandingkan negara-negara lain. Saat in, produksi kedelai Indonesia hanya berkisar 1,5 hingga 1,7 ton per hektare, jauh di bawah negara lain produsen utama dunia yang mampu mencapai lebih dari 3,3 ton kedelai per hektare.

Baca juga: Strategi menggairahkan budi daya kedelai lokal

Menurutnya, perbedaan tersebut dipengaruhi karakter lingkungan tumbuh. Sebagai negara tropis basah, Indonesia memiliki curah hujan tinggi, kelembapan udara besar, serta radiasi matahari yang kerap terhalang awan. Kondisi ini kurang ideal bagi fase kritis kedelai, terutama saat pembungaan dan pengisian biji.

Di Brasil dan Amerika Serikat, kata dia, tanaman kedelai mendapatkan cukup air pada awal pertumbuhan dan kondisi kering saat pengisian biji. Hal ini membuat biji lebih besar serta seragam.

Sebaliknya di Indonesia, lanjut dia, fase pengisian biji sering berlangsung dalam kondisi lembap atau hujan. Hal ini menghambat proses fotosintesis dan metabolisme tanaman sehingga biji tidak terisi penuh.

Baca juga: Budi daya kedelai monokultur tingkatkan produktifitas

Pewarta: Muhammad Zulfikar
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |