Pakar nilai semangat KAA tetap hidup, tapi tersandung implementasi

2 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - Pakar Hubungan Internasional Emir Chairullah menilai semangat Konferensi Asia Afrika (KAA) tetap relevan hingga saat ini, meski implementasinya kerap terhambat oleh kepentingan elite dan arah kebijakan rezim di tengah dinamika politik global.

“Semangatnya masih ada, menurut saya tidak hilang. Simbolis juga tidak. Masalahnya implementasi. Implementasi itu tergantung pimpinan atau rezim yang berkuasa,” kata Emir saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Sabtu, ketika ditanya soal relevansi KAA yang telah berusia 71 tahun.

Dosen Universitas Indonesia itu menjelaskan bahwa Dasasila Bandung yang dirumuskan dalam konferensi tersebut masih menjadi rujukan penting, termasuk dalam menjunjung hak asasi manusia dan kedaulatan negara. Prinsip-prinsip itu lahir dari KAA 1955 di Bandung dan menjadi dasar kerja sama serta perdamaian antarnegara hingga kini

Ia menegaskan bahwa tidak ada warga negara yang ingin dijajah atau kehilangan sumber daya, dan semua menginginkan kehidupan yang lebih layak dan setara. Namun, realitas politik menunjukkan bahwa implementasi prinsip tersebut sering kali berbenturan dengan kepentingan nasional masing-masing negara, bahkan dengan kepentingan elite di dalam negeri.

Menurut Emir, konflik antarnegara bukan semata kehendak rakyat, melainkan hasil tarik-menarik kepentingan elite dan kekuatan global. Ia mencontohkan perang Iran-Irak yang tidak bisa dilihat sebagai konflik rakyat semata, melainkan melibatkan aktor-aktor lain di balik perang tersebut.

“Yang kemudian berbenturan itu adalah kepentingan dari masing-masing pimpinan negaranya. Pimpinan masing-masing negara itu, yang mungkin ada yang mendekatkan diri dengan Global North, karena mungkin dia dapat keuntungan secara finansial, yang kemudian tidak memedulikan warganya,” ujarnya.

Kondisi tersebut, lanjutnya, memunculkan pola baru dalam polarisasi global yang menyerupai kolonialisme modern, terutama dalam bentuk eksploitasi sumber daya alam.

Emir juga mencontohkan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat yang disebutnya berkaitan dengan kepentingan sumber daya minyak, serta konflik Amerika Serikat-Israel terhadap Iran yang dinilai berkaitan dengan penguasaan cadangan uranium.

Sebagai salah satu inisiator KAA, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk kembali menghidupkan semangat solidaritas negara-negara berkembang.

“Sebenarnya peluang itu ada, selalu ada karena gimana juga Indonesia adalah inisiatornya. Termasuk inisiatornya untuk melakukan pembebasan terhadap dari yang namanya kolonialisme,” ujar dia.

Namun demikian, Emir mengingatkan bahwa langkah diplomasi Indonesia saat ini masih perlu keseimbangan. Kedekatan dengan negara-negara besar dinilai sebagai bagian dari strategi, tetapi akan lebih kuat jika diiringi dengan upaya mempererat solidaritas Asia-Afrika, sejalan dengan semangat KAA.

Konferensi Asia Afrika sendiri digelar di Bandung, Jawa Barat pada 18–24 April 1955 dan dihadiri 29 negara dari Asia dan Afrika, yang sebagian besar baru merdeka atau tengah berjuang lepas dari kolonialisme.

Salah satu hasil penting KAA adalah lahirnya prinsip-prinsip bersama yang dikenal sebagai Dasasla Bandung. Isinya mencakup penghormatan terhadap kedaulatan negara, tidak campur tangan urusan dalam negeri (non-intervensi), penyelesaian konflik secara damai, dan penegakan hak asasi manusia.

Baca juga: Dasasila Bandung: Kompas moral di tengah polarisasi

Baca juga: 71 tahun KAA: RI gaungkan Dasasila Bandung jadi solusi konflik global

Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |