Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pariwisata menilai bahwa narasi di media sosial (medsos) dapat memengaruhi keinginan serta kegiatan yang ingin dicoba oleh wisatawan ketika berkunjung ke sebuah destinasi.
"Kita pelaku industri pariwisata dan wartawan pariwisata sudah tugasnya untuk mengorkestrasikan nilai-nilai narasi yang sejujurnya terbukti, tervalidasi dan benar," kata Staf Khusus Menteri Bidang Komunikasi Publik dan Media Kemenpar Apni Jaya Putra dalam temu media di Jakarta, Jumat.
Apni mengatakan otak manusia sejak awal sudah didesain lebih menikmati menerima informasi yang menggunakan visual. Dengan luasnya kekayaan baik dari segi sejarah, budaya dan alamnya, visual yang disertai dengan narasi yang tepat dapat membantu memasarkan pariwisata Indonesia secara lebih imersif dan efisien.
Terlebih apabila narasi yang digunakan memuat sebuah informasi menarik seperti adanya kepercayaan setempat atau cerita rakyat di dalamnya.
Baca juga: Kota-kota di Indonesia yang gemar dikunjungi oleh wisatawan asing
Penggunaan Artificial Intelligence (AI/kecerdasan buatan) akan semakin membuat narasi yang dihadirkan menjadi menarik, serta bahasanya dapat dicocokkan dengan kata kunci yang diminati wisatawan.
"Di mana pun tempat, kita selalu punya cerita dan destinasi. Makanya perpaduan antara storytelling naratif dengan artificial intelligence (AI) itu akan menjadi sebuah kekuatan," ujar Apni.
Apni menilai cara tersebut dapat menggaet lebih banyak wisatawan, terlebih generasi muda yang saat ini mencari informasi melalui media sosial seperti Instagram dan TikTok.
Seluruh mesin pencarian akan bergantung pada kata kunci yang dicari, dan nantinya dapat membentuk sebuah kebiasaan baru ketika sedang berwisata.
"Hari ini keputusan untuk pergi ke destinasi tidak ditentukan oleh Google, jadi mereka (generasi muda) membantu ayahnya misalnya mencari tempat makan, itu di TikTok, dan mesin AI dengan luar biasa akan menyajikan secara cepat kebutuhan anda," kata dia.
Baca juga: Kemenpar nilai acara musik dan budaya berikan dampak untuk pariwisata
Sementara itu Brand Strategist & Founder Konner Advisory Silih Agung Wasesa menilai dalam mengangkat citra Indonesia, pemerintah tidak perlu membayar figur publik atau pemengaruh (influencer) dengan biaya yang fantastis.
Pada masa kini, pengguna media sosial dengan jumlah pengikut yang sedikit saja dapat menjadi viral ketika memperkenalkan suatu hal melalui video singkat apabila narasi yang dihadirkan menarik.
Belum lagi dengan adanya kehadiran kelompok-kelompok Pejuang Keadilan Sosial (SJW) yang biasanya akan menyuarakan suatu isu, sehingga terdapat peluang potensi sebuah destinasi wisata untuk mendapatkan sorotan lebih besar.
"Sekarang muncul yang namanya Nano. Mikro sempat ada, sekarang namanya Nano. Nano Influencer, nano ini keunggulannya apa? Mereka adalah SJW, SJW yang kesannya orang biasa-biasa aja, itu yang akan meningkatkan pariwisata Indonesia dan mereka bergerak dengan luar biasa," ujarnya.
Baca juga: Kemenpar promosikan wisata RI ke wisatawan Tiongkok
Baca juga: Menpar sebut pariwisata tumbuh kuat di tengah tekanan geopolitik
Baca juga: Kemenpar ajak mitra pariwisata dari mancanegara jelajahi Indonesia
Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































