Jakarta (ANTARA) - Maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia menyatakan komitmennya untuk menambah kekuatan armada pesawat terbang guna memaksimalkan dukungan pelayanan transportasi bagi jamaah haji dan umrah asal Indonesia.
Direktur Utama PT Garuda Indonesia (persero) Glenny Kairupan dalam konferensi pers optimalisasi penerbangan haji di Jakarta, Kamis, mengatakan bahwa penambahan armada tersebut dibarengi dengan capaian performa ketepatan waktu atau On-Time Performance (OTP) yang sangat tinggi pada musim haji tahun ini.
"Dari kami, Garuda untuk mendukung umrah, kita akan menambahkan kekuatan pesawat. Khusus untuk jamaah haji tahun ini, OTP kita mencapai 98 persen," kata dia.
Baca juga: Kemenhaj: RI kantongi izin empty leg penerbangan haji dari Arab Saudi
Dia menjelaskan bahwa kerja sama strategis antara pihak Garuda Indonesia dengan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi kini sudah resmi dilaksanakan guna mengoptimalkan operasional penerbangan.
Melalui implementasi kerja sama tersebut, armada pesawat Garuda selepas mengantar jamaah haji nantinya tidak hanya melayani rute penerbangan kembali ke tanah air, melainkan dapat membuka rute penerbangan ke negara lain.
"Nanti setelah kembali dari haji itu kita bisa melayani jamaah bukan hanya kembali ke Jakarta, tapi bisa juga ke Turki, bisa juga ke Malaysia, dan ini akan meningkatkan juga promosi kita, khususnya untuk pariwisata," kata dia menambahkan.
Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak memberikan keterangan dalam konferensi pers terkait optimalisasi penerbangan haji dan umroh didampingi Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa (pertama kiri), Wakil Menteri Perhubungan Suntana (dua kanan), Direktur Utama PT. Garuda Indonesia (persero) Glenny Kairupan (pertama kanan) di Kantor Kementerian Haji dan Umrah, Jakarta, Kamis (25/6/2026). ANTARA/M Riezko Bima Elko PrasetyoSementara itu, Wakil Menteri Haji dan Umrah (Kemenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak mengungkapkan bahwa pemerintah berkomitmen memperkuat eksistensi maskapai nasional dengan target mendorong Garuda Indonesia mengangkut minimal 50 persen dari total 3 juta orang untuk umrah.
Hal ini merespons otoritas penerbangan Arab Saudi, General Authority of Civil Aviation (GACA) yang telah memberikan izin resmi kepada maskapai Garuda Indonesia untuk mengisi kompartemen kosong atau empty leg saat pemulangan pesawat carter haji.
Langkah taktis penguatan maskapai nasional dengan pelayanan yang lebih baik, ekonomis, dan efisien ini juga diambil mempertimbangkan besarnya potensi pergerakan jamaah asal Indonesia ke Arab Saudi yang mencapai 3,2 juta orang per tahun.
Baca juga: Garuda koordinasikan ke Otoritas Arab demi kelancaran pemulangan haji
Baca juga: Garuda catat OTP keberangkatan haji tertinggi dalam 5 tahun terakhir
Berdasarkan data Kementerian Haji dan Umrah, total pergerakan tahunan tersebut terdiri atas 3 juta orang umrah dan 221.000 haji, dengan nilai perputaran uang yang beredar berkisar antara Rp120 triliun-Rp180 triliun.
Dia menambahkan dengan besarnya angka tersebut membuat Presiden meminta pembentukan tim khusus (task force) lintas kementerian bersama Garuda Indonesia untuk meminimalisasi aliran dana keluar serta menciptakan aliran dana masuk.
"Presiden meminta kepada Garuda, Menteri Pariwisata, Kementerian Perhubungan, dan Kementerian Haji untuk membuat task force meminimalisasi cash outflow agar ketimpangan aliran dana keluar tersebut tidak terlalu besar," kata Dahnil, yang turut didampingi Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa, Wakil Menteri Perhubungan Suntana itu.
Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































