Modal asing 5,9 miliar dolar AS, Indonesia masih jadi tujuan investasi

2 weeks ago 6
Instrumen berjangka pendek seperti SRBI menjadi salah satu pilihan investor di tengah tingginya ketidakpastian global.

Jakarta (ANTARA) - Permata Institute for Economic Research (PIER) mencatat arus modal asing ke Indonesia sepanjang Januari hingga awal Agustus 2026, masih mencatatkan posisi positif sekitar 5,9 miliar dolar Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan Indonesia tetap menjadi salah satu tujuan investasi di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan aliran modal tersebut terutama masuk ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar 9,4 miliar dolar AS, sementara obligasi mencatat inflow sekitar 610 juta dolar AS. Di sisi lain, pasar saham mengalami outflow sekitar 4,12 miliar dolar AS.

“Jadi memang inflows saat ini masih mayoritas ke instrumen-instrumen yang short term dan juga SRBI. Dan juga sementara yang kalau kita lihat yang equity ini yang lebih mencerminkan pencahayaan jangka panjang ini cenderung masih outflow,” kata Josua dalam economic review kuartal II-2026, di Jakarta, Senin

Ia menilai pergerakan tersebut menunjukkan investor masih memiliki minat terhadap aset keuangan Indonesia, meski strategi investasinya cenderung lebih selektif dan berhati-hati. Instrumen berjangka pendek seperti SRBI menjadi salah satu pilihan investor di tengah tingginya ketidakpastian global.

Pemulihan aliran modal juga mulai terlihat pada Juni 2026, seiring meredanya sejumlah ketegangan geopolitik dan munculnya perkembangan negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.

Dia mengatakan kepastian kebijakan domestik dinilai menjadi salah satu faktor penting yang perlu dilakukan pemerintah untuk memperkuat kembali minat investor terhadap aset berisiko, termasuk pasar saham. Kepastian terkait berbagai kebijakan dan perkembangan isu MSCI juga menjadi perhatian investor.

Di pasar obligasi, basis investor Indonesia tetap menunjukkan ketahanan. Meskipun kepemilikan perbankan terhadap SBN turun sekitar Rp257 triliun, investor asing masih menambah kepemilikan sekitar Rp18 triliun. Pada saat yang sama, Bank Indonesia meningkatkan kepemilikan sekitar Rp98 triliun, sementara asuransi dan dana pensiun bertambah sekitar Rp143 triliun.

Secara keseluruhan, total kepemilikan SBN meningkat sekitar Rp414 triliun menjadi Rp6.983 triliun. Perubahan tersebut menunjukkan semakin beragamnya basis investor di pasar surat utang domestik.

“Sampai dengan penutupan Jumat lalu pun juga sama bahwa imbal hasil SBN 10 tahun sudah naik 121 basis point ke 7,28, dan ini juga salah satu yang kenaikan imbal hasil yang terbesar di antara peers Asia,” katanya pula.

Dari sisi likuiditas, penempatan kelebihan likuiditas perbankan pada instrumen Bank Indonesia, terutama SRBI, juga meningkat sekitar Rp368 triliun hingga akhir Juli atau awal Agustus 2026. Kondisi ini menunjukkan instrumen pasar keuangan domestik masih mampu menjadi pilihan penempatan dana bagi perbankan.

Meski pasar keuangan masih menghadapi tekanan dari kondisi global, peluang investasi di Indonesia tetap terbuka. Investor dinilai perlu melihat perkembangan secara lebih granular, karena masih terdapat aset dan sektor tertentu yang memiliki prospek positif sesuai dengan profil risiko masing-masing.

Baca juga: Bappenas: "Nature, culture, future" filosofi RI gaet investasi asing

Baca juga: BKPM: Tren investasi Jepang ke Indonesia menguat pada semester I-2026

Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |