Masihkah kita mendengar suara penulis dalam tulisannya?

4 hours ago 9
Di sinilah letak masalahnya. Jika kendali harus berada di tangan manusia, apakah keputusan editorial dalam proses menulis seperti memilih diksi, ungkapan, dan struktur kalimat boleh diserahkan kepada AI?

Jakarta (ANTARA) - Seorang kawan mengirimi saya tautan artikel. Dia bertanya apakah media boleh menerbitkan tulisan yang "patut diduga" tidak dibuat sendiri oleh penulisnya. Saya urung membalasnya dengan ikon tertawa, karena setelah dibaca lagi, dia rupanya bertanya dengan nada seriosa.

Pertanyaan itu tak langsung saya jawab. Selain bingung mau balas apa, saya juga perlu membaca artikel itu sampai habis. Kalimat per kalimat, alinea demi alinea — biar saya tidak dituduh terlalu cepat menyimpulkan.

Sebetulnya saya ingin mengutip satu dua kalimat itu di sini, tetapi tak elok rasanya mengomentari tulisan orang lain. Jadi, saya akan memakai contoh yang strukturnya serupa dengan kalimat dalam tulisan itu.

"Ketika seseorang lupa membawa payung, ia bukan sekadar melakukan kelalaian kecil, melainkan sedang berhadapan dengan konsekuensi dari keputusan yang tidak disiapkan secara matang."

Kalimat itu sebetulnya cuma mau mengatakan satu hal: lupa membawa payung. Namun, hal sesimpel itu rupanya perlu dibuat njelimet dengan hubungan sebab-akibat dan "bukan sekadar ini, melainkan itu". Insiden lupa membawa payung akhirnya terkesan seperti rencana penting yang gagal dieksekusi karena kelalaian manusia.

Saya beri satu contoh kalimat lain yang dipakai sebagai penutup. "Pada akhirnya, kehujanan mengajarkan kita bahwa setiap kelalaian, sekecil apa pun, selalu membawa konsekuensi."

Inikah yang dipermasalahkan? Saya kira bukan.

Tak ada yang salah jika seorang penulis menggunakan kalimat yang kompleks, apalagi jika hal yang ingin disampaikannya memang memerlukan kalimat seperti itu.

Dari kedua contoh kalimat di atas, pembaca mungkin bertanya-tanya kenapa hal yang sepele jadi kelihatan sulit – mirip sindiran populer terhadap birokrasi yang berbelit-belit.

Kalimat yang kompleks biasa dipakai dalam jurnalistik, misalnya untuk menjelaskan sesuatu yang jika disederhanakan bisa menimbulkan salah paham.

Persoalan remeh seperti lupa membawa payung tidak memerlukan penjelasan yang panjang. Namun, ketika seorang wartawan harus menjelaskan mengapa harga BBM tidak langsung turun setelah harga minyak mentah dunia jatuh, kalimat yang lebih kompleks bisa membantu pembaca dengan cepat memahami penyebabnya.

​"Harga BBM tidak langsung turun karena bensin yang dijual saat ini dibuat dari stok minyak mentah lama yang dibeli saat harganya lebih mahal dan menggunakan nilai tukar dolar pada waktu itu."

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |