Jakarta (ANTARA) - Xinhua mengunjungi Museum Bahari di kawasan Kota Tua, Jakarta Utara. Area yang menyuguhkan nuansa laut dan bangunan tua bergaya kolonial ini layaknya gerbang menuju masa lampau. Kunjungan kali ini menjadi lebih istimewa karena tak sekadar wisata sejarah biasa, melainkan guna menyambangi pameran ARTHEFACT 25 "Srivijaya: Across The Land, Rivers and Sea" yang sedang menjadi sorotan.
Begitu memasuki museum, Xinhua langsung disambut hangat oleh Ketua Satuan Pelaksana Edukasi Museum Bahari Nurul Iman yang kemudian mengajak kami berkeliling, berbincang, dan mengantar menuju ruang pameran. Setibanya di lokasi, Nur Hidayati Fauziah selaku staf pemandu Museum Bahari turut mendampingi Xinhua untuk melihat dan mempelajari berbagai artefak yang tampilkan dalam pameran yang berlangsung dari tanggal 12 Agustus hingga 15 November 2025 tersebut.
Salah satu hal menarik dalam pameran ini adalah hadirnya sentuhan internasional. "Pameran ini bekerja sama dengan beberapa kedutaan besar negara lain seperti India, Singapura dan China, serta beberapa balai pelestarian dari Sumatra dan Banten" tutur Nurul Iman. Hal ini menunjukkan bagaimana Sriwijaya menjadi simpul penting dalam jaringan diplomasi Asia. Berikut beberapa fakta menarik Sriwijaya yang dihimpun oleh Xinhua:
Pusat maritim dan pengetahuan Asia Tenggara
Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan maritim terbesar dan paling berpengaruh dalam sejarah Nusantara. Berdiri sejak abad ke-7 Masehi, Sriwijaya mampu bertahan selama lebih dari enam abad. Keberlangsungan ini menjadi bukti kemampuan adaptasi, daya tahan, dan kecakapan politik yang luar biasa dari para penguasa serta masyarakatnya.
Letak strategis dan sumber daya alam
Keberhasilan Sriwijaya tidak terlepas dari letaknya yang sangat strategis, yaitu di Selat Malaka, titik pertemuan penting antara dua peradaban besar dunia kala itu yakni India dan China. Selain itu, wilayah Sriwijaya kaya akan sumber daya alam seperti emas, rempah-rempah, kayu, timah, dan getah. Sungai-sungai besar seperti Sungai Musi dan Batanghari menjadi penghubung vital antara daerah pedalaman yang produktif dan kawasan pesisir yang ramai.
Namun, sumber daya dan letak geografis saja tidak cukup. Peran manusia menjadi faktor kunci dalam kejayaan Sriwijaya. Masyarakat dan pemimpin Sriwijaya pandai mengelola perdagangan, menjalin aliansi politik, dan memanfaatkan kekayaan budaya serta pendidikan sebagai instrumen kekuasaan. Mereka tahu bahwa pengetahuan adalah fondasi pembangunan jangka panjang. Inilah yang menjadikan Sriwijaya bukan hanya pusat perdagangan, melainkan juga pusat pembelajaran Buddhisme di Asia Tenggara.

Sistem pemerintahan dan struktur sosial politik ekspansi dan prasasti kota kapur
Sriwijaya dikenal sebagai kedatuan, yakni sistem pemerintahan berbasis datu (pemimpin lokal) yang terhubung dalam jejaring kekuasaan. Berdasarkan Prasasti Telaga Batu, struktur pemerintahan Sriwijaya terdiri dari datu utama yang memerintah pusat kedatuan, didampingi oleh para datu lokal di wilayah-wilayah sekitar. Wilayah ini terbagi menjadi beberapa tingkatan, yakni pusat kedatuan, vanua (desa semi urban), samaryyÄda (wilayah pinggiran), dan bhÅ«mi (wilayah luar).
Ibu kota Sriwijaya awalnya terletak di Palembang, sekitar 90 km dari muara Sungai Musi. Kemudian sempat pindah ke wilayah Jambi, sejauh 120 km dari muara Sungai Batanghari. Kedudukan ini menunjukkan pusat pemerintahan Sriwijaya tidak berada tepat di kawasan pesisir, melainkan cukup jauh ke area pedalaman, memanfaatkan kontrol atas jalur sungai dan hubungan dagang dari hulu hingga hilir.
Jaringan maritim dan konfederasi pelabuhan
Sebagai kerajaan maritim atau thalassokrasi, Sriwijaya menguasai pelabuhan-pelabuhan penting di sepanjang jalur perdagangan internasional, dari Selat Malaka, Selat Karimata, Selat Sunda, hingga Laut China Selatan. Kawasan pesisir tersebut menjadi titik penting dalam jejaring pelabuhan yang membentuk mandala kekuasaan Sriwijaya. Kerajaan ini memainkan peran penting sebagai pusat redistribusi barang dan informasi antara dunia Barat dan Timur.
Para penguasa Sriwijaya juga menjalin hubungan dengan komunitas suku-suku laut di Selat Malaka. Mereka berperan penting dalam ekonomi, keamanan laut, serta jaringan politik kerajaan. Suku-suku laut yang tangguh ini dijadikan penjaga lautan, yang membantu mempertahankan dominasi Sriwijaya di kawasan.

Politik ekspansi dan Prasasti Kota Kapur Yijing (I Tsing): saksi Ssejarah kegemilangan Sriwijaya
Selain membangun pertahanan, Sriwijaya juga melakukan ekspansi militer dan politik. Salah satu bukti utamanya adalah Prasasti Kota Kapur (686 M), yang mencatat rencana penyerangan terhadap kerajaan di Jawa yang menolak tunduk kepada Sriwijaya. Prasasti ini menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Melayu kuno, serta memuat kutukan bagi siapa pun yang memberontak terhadap kekuasaan Sriwijaya.
Kebijakan ekspansi ini mempertegas peran Sriwijaya dalam mengendalikan jalur perdagangan di kawasan seperti Selat Malaka, Selat Sunda, Laut Jawa, dan Selat Karimata.
Sriwijaya: jalur rempah, sutra, dan Pengetahuan
Sriwijaya tidak hanya dikenal sebagai pusat perdagangan rempah-rempah dan barang mewah seperti kapur barus, kayu cendana, cengkeh, dan emas. Kerajaan ini juga menjadi pusat penting dalam Jalur Sutra Maritim dan Jalur Pengetahuan. Hubungan erat Sriwijaya dengan Universitas Nalanda di India mencerminkan posisi intelektualnya. Raja Sriwijaya yang terkenal, Balaputradewa, bahkan membangun wihara di Nalanda untuk mendukung para pelajar dari Nusantara.
Sejumlah tokoh besar Buddhisme seperti Atisa Dipankara pernah singgah dan belajar di Sriwijaya. Atisa, yang kemudian menjadi tokoh penting dalam penyebaran Buddhisme di Xizang dan daerah sekitarnya, belajar kepada guru besar Dharmakirti di Sriwijaya selama 11 tahun (1013-1025 M).
Salah satu sumber utama sejarah Sriwijaya berasal dari catatan perjalanan biksu China bernama Yijing (I Tsing). Dia berlayar dari China menuju India untuk mempelajari agama Buddha. Dalam perjalanannya, dirinya singgah di Sriwijaya pada tahun 671 Masehi dan tinggal selama 6 bulan (catatan lain menyebut 8 bulan) untuk mempelajari bahasa Sanskerta dan memahami ajaran Buddha sebelum melanjutkan perjalanan ke Nalanda.
Dalam catatannya, Yijing menggambarkan Sriwijaya sebagai sebuah negeri besar yang makmur, teratur, dan menjadi pusat pembelajaran Buddhisme Mahayana. Dia bahkan menyarankan kepada para biksu China yang ingin belajar ke India untuk terlebih dahulu belajar di Sriwijaya. Ini menunjukkan bahwa Sriwijaya diakui secara internasional sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan pada masa itu.
Catatan Yijing yang tertulis dalam catatannya yang berjudul "Nanhai Jigui Neifa Zhuan" (Kiriman Catatan Praktik Buddhadharma dari Lautan Selatan) menjadi bukti penting peran Sriwijaya dalam jaringan intelektual Buddhis Asia.
Kemunduran dan runtuhnya Sriwijaya
Puncak kemunduran Sriwijaya terjadi pada abad ke-11. Serangan dari Kerajaan Chola di India selatan pada tahun 1025 M (dicatat dalam Prasasti Tanjore) menandai titik balik yang melemahkan kekuasaan Sriwijaya. Armada Chola menyerang dan merebut berbagai pelabuhan penting serta menangkap raja Sriwijaya kala itu, Sanggrama Wijayottunggawarman.
Selain serangan asing, Sriwijaya juga menghadapi tekanan dari internal dengan munculnya kerajaan-kerajaan baru di wilayah pesisir timur Sumatra dan Semenanjung Malaya, seperti Trambalingga dan Kedah. Pembagian kekuasaan yang tidak merata dan luasnya wilayah menyebabkan pengawasan menjadi sulit.
Faktor lingkungan juga berkontribusi dalam kemunduran ini. Pendangkalan Sungai Musi mengakibatkan ibu kota Sriwijaya semakin jauh dari garis pantai, membuat kapal-kapal dagang enggan singgah.

Foto yang diabadikan pada 12 Agustus 2025 ini menunjukkan koleksi mangkuk keramik era Dinasti Tang dalam pameran ARTHEFACT 25 “Srivijaya: Across The Land, River and Sea” yang digelar di Museum Bahari di kawasan Kota Tua, Jakarta Utara. ANTARA/Xinhua/Noviyanti

Pewarta: Xinhua
Editor: Santoso
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.