Sigi (ANTARA) - Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf mengajak masyarakat yang masuk dalam kategori miskin ekstrem untuk menyekolahkan anaknya di Sekolah Rakyat.
"Jadi orang tua dan negara memiliki kewajiban untuk bisa memberikan pendidikan kepada anak-anak usia sekolah, maka itu Sekolah Rakyat hadir dalam rangka memberikan kesempatan kepada keluarga-keluarga yang paling tidak mampu atau miskin ekstrem agar anaknya memperoleh pendidikan dengan lingkungan yang berkualitas," kata dia ditemui awak media di Sigi, Sulawesi Tengah, Senin.
Ia mengemukakan penerimaan siswa baru di Sekolah Rakyat menggunakan metode penjangkauan masyarakat kurang mampu.
Nantinya, katanya, tim dari pemerintah daerah, Kemensos, dan BPS bekerja bersama-sama di lapangan untuk melakukan dialog dengan orang tua yang sudah masuk dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
"Kalau orang tuanya setuju dan memenuhi kriteria maka akan ditetapkan Bupati Sigi sebagai siswa Sekolah Rakyat di daerah tersebut untuk selanjutnya dibawa ke Kementerian Sosial," katanya.
Ia menuturkan pentingnya anak-anak wajib belajar selama 13 tahun sehingga seluruh anak di Indonesia bisa memperoleh pendidikan yang layak dan semestinya.
Menurut dia, anak-anak yang menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat mendapatkan sejumlah fasilitas, seperti laptop, asrama, dan perlengkapan lainnya.
"Tentunya program Sekolah Rakyat ini bertujuan memberikan kesempatan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang tercatat dalam Desil 1 dan 2 DTSEN," kata dia.
Baca juga: Mensos tinjau langsung kegiatan belajar mengajar di SRMP 22 Sigi
Baca juga: Tinjau STIP, Mensos targetkan Sekolah Rakyat rintisan mulai Mei
Baca juga: Siswa Sekolah Rakyat Blora dibekali laptop untuk pembelajaran digital
Pewarta: Moh Salam
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































