Kabupaten Bekasi (ANTARA) - Anggota Komisi IX DPR RI Obon Tabroni menyebutkan, hingga saat ini masih ada pemerintah daerah (pemda) dan Badan Gizi Nasional (BGN) tak sinkron terkait pengelolaan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
"Karena ternyata tadi, ada informasi belum klop antara pemerintahan daerah dengan BGN. Ya, selesai pertemuan ini, mereka sudah dapat SK, silakan tindak lanjutnya," katanya di sela Festival Aspirasi bertajuk 'Dari Dapur ke Masa Depan' di Bekasi, Senin.
Menurut dia, sejumlah dapur bahkan harus ditutup karena belum memenuhi standar, baik dari sisi pengelolaan limbah maupun manajemen. "Ini yang kita fasilitasi agar ada solusi bersama," katanya.
Dirinya mengungkapkan tema 'Dari Dapur ke Masa Depan' memiliki makna strategis yakni persoalan dapur bukan hanya soal hari ini, melainkan berkaitan langsung dengan kualitas generasi mendatang.
"Pertama, ya kalau bicara secara umum hari ini angka stunting di Indonesia masih tinggi. Yang kedua, rata-rata IQ orang Indonesia juga kan dibanding negara lain jauh banget. Jadi, masalah dapur bukan masalah hari ini, tapi masalah masa depan bangsa ke depan," katanya.
Baca juga: Survei Cyrus: Publik dukung program MBG namun minta perbaikan
Oleh karena itu, Obon menekankan pentingnya pembenahan dapur dalam program MBG agar ke depan lebih berkualitas serta sesuai standar.
Berdasarkan data BGN, sekitar 300 dapur di Jawa Barat telah ditutup karena tidak memenuhi standar.
"Kita dengar dari BGN ada perbaikan-perbaikan, makanya keren di Jawa Barat ada 300 dapur yang ditutup karena tidak sesuai dengan aturan dari dapur tersebut," ujarnya.
Pria asal Kabupaten Bekasi ini juga menilai berbagai persoalan yang ditemukan umumnya berkaitan dengan pengelolaan limbah serta manajemen dapur yang belum memenuhi standar.
"Hal-hal seperti pengolahan limbah dan manajemen dapur ini harus terus diperbaiki. Laporan dari masyarakat juga harus ditindaklanjuti," katanya.
Baca juga: MBG, sejauh mana negara masuk ke dapur warga
Obon mengaku beragam persoalan sebenarnya sudah banyak masuk ke pemerintah daerah. Namun, diperlukan langkah konkret dan koordinasi yang lebih kuat untuk menindaklanjuti. Evaluasi rutin dibutuhkan guna memastikan program berjalan optimal.
"Ya intinya hari ini banyak saya yakin masalah masuk ke pemda. Tapi Pemda mau ngapain? Nah hari ini ada dari BGN, silakan nanti ke depannya. Saya tawarkan apa rapat, tiap dua bulan atau tiga bulan sekali evaluasi," ucap dia.
Bekasi diapresiasi
Ketua Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI Ahmad Heryawan mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Bekasi atas komitmen dan kinerja mendukung serta menyukseskan program Asta Cita Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto khususnya dalam implementasi program MBG.
Ia menilai langkah yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Bekasi menunjukkan keseriusan daerah dalam merealisasikan program nasional ke dalam kebijakan dan pelaksanaan yang konkret di lapangan.
Menurut dia, salah satu indikator keberhasilan pelaksanaan program tersebut di Kabupaten Bekasi adalah terjaganya kualitas dan keamanan pangan yang tercermin dari tidak adanya kasus kejadian luar biasa akibat keracunan makanan dalam pelaksanaan MBG hingga saat ini.
Baca juga: DPR minta evaluasi MBG dan pastikan kawal perbaikan program
"Ini hasil dari sistem pengawasan serta koordinasi solid antar pihak terkait. Fakta tidak terdapat kasus keracunan menunjukkan sistem pengawasan yang diterapkan sudah berjalan dengan sangat baik, mulai dari proses pengolahan hingga distribusi makanan kepada penerima manfaat," katanya.
Aher berharap pencapaian ini harus terus dipertahankan dan ditingkatkan, khususnya melalui penguatan pengawasan terhadap dapur-dapur SPPG yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Bekasi.
"Ke depan, pengawasan harus terus diperkuat dan dilakukan secara konsisten, sehingga seluruh dapur SPPG dapat memenuhi standar yang telah ditetapkan dan mampu menjamin kualitas serta keamanan makanan bagi masyarakat," kata dia.
Pewarta: Pradita Kurniawan Syah
Editor: Edy Sujatmiko
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































