Jakarta (ANTARA) - Kelompok Tani (Poktan) GSG 07 di Kembangan, Jakarta Barat, sudah bersiap menghadapi kemarau panjang yang diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), datang lebih awal.
Salah satu petani, Mulyadi (55) mengaku telah menyiapkan wadah penadah untuk menampung air hujan.
"Kami sudah buat tadah hujan, pakai tong, jadi buat nadah air hujan. Airnya bisa buat nyiram tanaman yang ada di luar. Ada beberapa yang dibuat di sini, ya buat jaga-jaga aja kalau lagi enggak ada air ya kita siram tanaman pakai air ini," kata Mulyadi di lokasi, Senin.
Kendati ketersediaan air bukan masalah yang dihadapi oleh Mulyadi di lokasinya bertani, namun kemarau panjang mesti tetap diakali agar tanaman tetap bisa diairi secara teratur.
"Karena di sini kalau buat air enggak susah, jadi masih aman," ungkapnya.
Namun, menurutnya, selama musim kemarau, tantangan yang dihadapi adalah mengatur pengairan tanaman secara teratur.
"Yang paling penting sih penyiramannya teratur, itu aja sih. Beda kalau sama lagi musim hujan kan," kata dia.
Sementara itu, Ketua Poktan GSG 07 Kembangan, Kasmin mengatakan musim kemarau justru sangat baik bagi pertumbuhan tanaman khususnya pada tanaman hidroponik dan sejenisnya.
"Kalau kena air hujan kurang bagus ya, terus di segala tanaman juga untuk PH tanahnya juga kan beda ya, gitu. Terus kayak di hidroponik itu, kayak di media sini hidroponik semua itu kalau musim panas itu bagus," kata Kasmin.
Seperti pada tanaman Pokcoy, kata dia, pada musim panas tanaman ini dipanen lebih cepat dan hasilnya juga lebih bagus dibanding saat musim hujan.
"Bedanya satu untuk pertumbuhan. Karena kalau musim hujan emang kurang panas ya. Sedangkan di hidroponik itu emang dia membutuhkan panas," jelas dia.
Menurut Kasmin, musim kemarau lebih merugikan petani padi di daerah, sebab dibutuhkan air yang bersumber dari waduk.
"Kalau padi kan memang benar-benar membutuhkan air, nah mungkin kekeringan bisa menjadi masalah," ungkapnya.
Lebih lanjut, Kasmin berujar, Poktan GSG 07 ini dikhususkan untuk warga RW 07 di beberapa RT yang ingin belajar bercocok tanam dan sejenisnya.
Hasil panen sayur maupun buah-buahan pun diutamakan untuk kebutuhan warga sekitar.
"Kalau warga luar mau beli di sini juga bisa, tapi memang kami prioritaskan untuk warga sekitar yang ada di kawasan ini," jelas Kasmin.
Adapun, di lahan seluas 3.500 meter persegi itu, warga menanam berbagai jenis sayuran dan juga beternak ikan sebagai bentuk ketahanan pangan.
Berbagai jenis tanaman ditanam mulai dari cabai, anggur, labu madu, terong, hingga kacang panjang. Sementara untuk ikan, warga memelihara jenis ikan lele dan nila.
Poktan GSG 07 juga memiliki tanaman hidroponik di dua tempat. Di lokasi tersebut, warga menanam kangkung, bayam, hingga pokcoy, yang hasilnya bisa dijual.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 di Indonesia berpotensi datang lebih cepat dari biasanya.
Kondisi ini dipicu oleh dinamika iklim global yang berdampak pada penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jakarta.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Dr. Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan, ada faktor utama yang menyebabkan musim kemarau lebih cepat dari biasanya.
"Faktor utama yaitu variabilitas iklim Indonesia, masuknya angin monson Australia," kata Ardhasena melalui pesan singkat di Jakarta, Senin.
Menurut Ardhasena, musim kemarau berdampak ke seluruh wilayah Jakarta.
"Seluruh Jakarta terdampak," kata dia.
Baca juga: Bolongi turap, Pemkot Jakbar minta oknum petani buat pernyataan
Baca juga: SDA Jakbar duga ada petani yang bolongi turap di Kembangan
Baca juga: Dinas KPKP: Produksi padi di Jakarta stabil saat El Nino
Pewarta: Redemptus Elyonai Risky Syukur
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































