Lima keterampilan psikologis yang perlu dipelajari anak sejak dini

4 hours ago 5

Jakarta (ANTARA) - Anak-anak yang sering terlihat paling “sukses” di kemudian hari tidak selalu adalah mereka yang paling dulu menghafal fakta terbanyak.

Lebih sering, mereka adalah anak-anak yang belajar bagaimana berhenti sejenak, pulih, beradaptasi, dan bertahan dengan suatu masalah cukup lama untuk menyelesaikannya.

Para psikolog sering menggambarkan kelompok kemampuan ini sebagai fungsi eksekutif dan regulasi diri, yaitu sistem internal otak untuk mengelola informasi, membuat keputusan, mengendalikan impuls, dan merencanakan ke depan.

Kemampuan ini membentuk cara anak merespons tantangan, mengelola emosi, dan bertahan ketika hal-hal menjadi sulit.

Hal yang menggembirakan adalah bahwa keterampilan ini tidak tetap sejak lahir; keterampilan tersebut dapat dibangun, dilatih, dan diperkuat seiring waktu.

Baca juga: Orang tua perlu tenang dampingi anak hadapi ujian sekolah

Berikut adalah lima keterampilan psikologis yang perlu dipelajari anak sejak dini untuk meraih kesuksesan, sebagaimana dilansir Times of India, Senin:

1. Berhenti sejenak sebelum bereaksi

Anak yang belajar berhenti sejenak sebelum menjawab, mengambil sesuatu, atau bereaksi keras sudah mulai membangun pengendalian diri. Jeda itu bukanlah hal pasif; itu adalah momen ketika otak memilih respons, bukan berjalan berdasarkan impuls. Penelitian perkembangan anak dari Harvard menempatkan pengendalian diri sebagai inti fungsi eksekutif, bersama dengan memori kerja dan fleksibilitas mental.

Baca juga: Bisa kah anak tumbuh hangat dan empatik meski tanpa keluarga harmonis?

2. Menamai perasaan

Anak-anak tidak terlahir dengan kosakata emosi yang lengkap, itulah mengapa menamai perasaan sejak dini sangat penting. NHS merekomendasikan membantu anak kecil mengenali emosi dengan menyebutkan apa yang mungkin mereka rasakan, baik senang, sedih, marah, dan lainnya, sehingga mereka perlahan belajar kata-kata untuk menggambarkan apa yang terjadi di dalam diri mereka.

Anak yang bisa menamai perasaannya akan lebih kecil kemungkinannya “dikuasai” oleh perasaan tersebut.

3. Meminta bantuan tanpa rasa malu

Salah satu pelajaran paling berguna yang bisa dipelajari anak adalah bahwa kesulitan bukanlah kegagalan pribadi. Akan sangat membantu jika anak memahami bahwa mereka bisa berbicara dengan orang lain selain orang tua, seperti kakek-nenek, guru, bibi, paman, atau konselor, karena dukungan bisa datang dari lebih dari satu tempat.

Ketika anak tumbuh dengan pemahaman bahwa meminta bantuan itu normal, mereka tidak membuang energi untuk berpura-pura semuanya baik-baik saja. Sebaliknya, mereka belajar bahwa meminta bantuan adalah kekuatan, bukan kelemahan, dan bahwa masalah sering kali menjadi lebih ringan ketika dibagi.

Baca juga: Kiat orang tua meregulasi emosi saat puasa

4. Menggunakan kata “belum”

Anak yang berkata, “Saya tidak bisa melakukan ini,” sering terdengar putus asa. Anak yang berkata, “Saya belum bisa melakukan ini,” terdengar sedang dalam proses berkembang.

APA (American Psychological Association) mencatat bahwa kerja pola pikir berkembang (growth mindset) dapat membantu menjaga motivasi siswa ketika menghadapi tantangan dan dapat meningkatkan hasil seperti nilai akademik.

Intinya bukan optimisme palsu, melainkan belajar melihat kemampuan sebagai sesuatu yang tumbuh melalui usaha dan latihan.

Baca juga: Merawat cucu mendukung manfaat kognitif di usia tua

5. Belajar bahwa kesalahan adalah informasi

Banyak anak langsung runtuh saat pertama kali dikoreksi, seolah-olah salah berarti buruk. Itulah mengapa orang dewasa harus membingkai kesalahan sebagai petunjuk, bukan vonis.

Panduan APA tentang pujian dan ketahanan menunjukkan pentingnya mendorong usaha dan pembelajaran, bukan menganggap bakat sebagai keseluruhan cerita. Anak yang belajar hal ini sejak dini akan tetap lebih berani untuk waktu yang lebih lama.

Baca juga: Tips kerja sama tim antarpasangan agar mengasuh anak tanpa kelelahan

Penerjemah: Pamela Sakina
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |