Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ketahanan energi nasional, sehingga masa depan energi Indonesia bertumpu pada pemanfaatan sumber daya domestik yang efisien dan berkelanjutan.
"Dengan semangat kebersamaan, kita bisa menciptakan masa depan energi yang lebih baik. Kita ingin menghadirkan energi yang lebih terjangkau, mendorong investasi lebih besar, serta mempercepat pembangunan nasional," ujar Darmawan dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin.
Pernyataan ini selaras dengan proyeksi pemerintah yang memperkirakan investasi di sektor ketenagalistrikan akan melampaui 500 miliar dolar AS untuk mendukung target transisi energi.
Darmawan sebelumnya menyatakan Indonesia membutuhkan jaringan transmisi sepanjang 48.000 kilometer sebagai bagian dari strategi transisi energi nasional, untuk menjembatani ketimpangan antara lokasi sumber energi terbarukan, yang umumnya di daerah terpencil, dengan pusat permintaan listrik di kawasan ekonomi utama.
Proyek interkoneksi Sumatera-Jawa yang menggunakan teknologi HVDC, dengan panjang sirkuit 112 kilometer, menjadi salah satu proyek prioritas pemerintah yang saat ini sedang dalam tahap persiapan.
Pemerintah dan PLN telah merencanakan dua proyek transmisi HVDC (high voltage direct current) dalam dekade mendatang sebagai bagian dari RUPTL 2025-2034.
Menyikapi hal ini, Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) menggandeng CIGRE Indonesia (Conseil International des Grands Réseaux Électriques) menyelenggarakan workshop bertajuk "HVDC Transmission: Indonesia's Green Enabling Interconnection" di Jakarta, Senin ini.
Workshop menjadi forum strategis yang mempertemukan pelaku industri, regulator, hingga pemangku kepentingan global untuk membahas peran teknologi HVDC sebagai tulang punggung interkoneksi listrik hijau di Indonesia.
Pemerintah Indonesia terus menunjukkan komitmennya dalam percepatan transisi energi menuju sistem kelistrikan yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, pemerintah menargetkan penambahan kapasitas pembangkit baru sebesar 69,5 gigawatt (GW), dengan 76 persennya berasal dari energi terbarukan seperti surya, air, angin, dan panas bumi, serta didukung oleh sistem penyimpanan energi (baterai dan pumped-storage hydropower).
Lebih rincinya, target energi terbarukan dalam RUPTL tersebut mencakup 42,6 GW dari energi baru terbarukan (EBT), meliputi 17,1 GW tenaga surya, 11,7 GW air, 7,2 GW angin, dan 5,2 GW panas bumi.
Komitmen ini semakin diperkuat dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 GW dalam waktu relatif singkat, sebagai langkah strategis mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus mendukung target ambisius 100 persen listrik dari energi terbarukan dalam 10 tahun ke depan.
Pemerintah juga mengalokasikan dukungan fiskal untuk ketahanan energi sebesar Rp402,4 triliun pada 2026.
Baca juga: PLN akan eliminasi 2.139 mesin pembangkit listrik tenaga diesel
Baca juga: Dirut PLN IP: Kolaborasi jadi kunci transisi energi di Asia Tenggara
Baca juga: Kementerian ESDM dorong realisasi "super grid" lewat teknologi HVDC
Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































