Mengapa tanggung Jawab negara besar kini lebih penting dari sebelumnya

2 hours ago 2

Beijing (ANTARA) - Dalam urusan global, cara kekuatan digunakan selalu menjadi sebuah isu sentral.

Di tengah meningkatnya pergolakan dan ketidakpastian yang mengubah lanskap internasional, ujian sesungguhnya bagi negara-negara besar bukan terletak pada kemampuan untuk memberikan pengaruh, melainkan pada kesediaan untuk menjaga multilateralisme, menegakkan keadilan, serta bertindak sebagai kekuatan bagi stabilitas dunia.

Salah satu tanggung jawab utama sebuah negara besar adalah menjadi teladan dalam menegakkan aturan internasional dan menolak hukum rimba.

Aturan bukanlah idealisme abstrak, melainkan jaminan minimal stabilitas dalam dunia yang memiliki keberagaman. Ketika negara-negara besar secara terang-terangan melanggar hukum internasional, mengabaikan mekanisme multilateral, atau menggunakan paksaan, mereka telah melemahkan fondasi tatanan global itu sendiri.

Dalam beberapa tahun terakhir, Amerika Serikat berulang kali mengabaikan norma-norma yang telah ditetapkan, mengandalkan sanksi sepihak, tekanan militer, dan justifikasi "keamanan nasional" yang ekspansif.

(Xinhua)

Agresi militer baru-baru ini yang berujung pada penangkapan paksa Presiden Venezuela Nicolas Maduro di wilayah Venezuela telah melanggar prinsip-prinsip inti kedaulatan. Pernyataan-pernyataan baru tentang mengakuisisi Greenland telah menimbulkan kekhawatiran terkait integritas teritorial, dan keagresifan militer yang berulang kali ditunjukkan Washington terhadap Iran semakin mengguncang stabilitas Timur Tengah yang sudah rapuh

Bagi negara-negara besar, ukuran tanggung jawab yang sebenarnya tidak terletak pada sejauh mana mereka dapat menguji batas-batas kekuasaan, tetapi seberapa konsisten mereka menyesuaikannya dengan aturan. Menghormati hukum internasional adalah hal yang membedakan kepemimpinan dari dominasi, dan tatanan dari paksaan.

Hal yang sama pentingnya adalah tanggung jawab untuk mendorong kerja sama dan hasil yang saling menguntungkan, terutama di bidang ekonomi.

Globalisasi ekonomi telah menghubungkan pasar, menyebarluaskan teknologi, dan membebaskan jutaan orang dari kemiskinan, tetapi masih rentan terhadap fragmentasi. Ketika perekonomian-perekonomian besar mengadopsi pola pikir permainan menang-kalah (zero-sum), memprioritaskan kepentingan sendiri, atau mengambil tindakan sepihak dengan dalih "keamanan nasional", mereka telah mengganggu rantai pasokan, mendistorsi pasar, dan meningkatkan ketidakpastian global.

Sangatlah keliru untuk mengeklaim bahwa ketika suatu negara makmur, seluruh dunia juga makmur. Pengalaman terkini menunjukkan hal sebaliknya. Ketika pertumbuhan suatu negara dikejar melalui proteksionisme, kebijakan perdagangan yang memaksa, dan tekanan sepihak, efek limpahan bagi negara-negara lain di dunia bukanlah kemakmuran bersama, melainkan peningkatan ketidakpastian dan pertambahan risiko.

Sebaliknya, keterbukaan, aturan yang dapat diprediksi, dan kerja sama inklusif memperkuat ketahanan dan memberikan stabilitas yang sangat dibutuhkan. Negara-negara besar, karena pengaruh yang dimilikinya, menentukan arah. Pilihan mereka menentukan apakah globalisasi tetap menjadi platform untuk pertumbuhan bersama atau menjadi korban persaingan.

Tanggung jawab ketiga adalah mendukung sistem internasional yang lebih seimbang dan multipolar, alih-alih memperkuat dominasi unilateral.

Upaya untuk memusatkan pengambilan keputusan di tangan satu aktor, melemahkan institusi multilateral, atau memberlakukan aturan tanpa persetujuan luas berisiko memperdalam perpecahan dan membuat negara-negara kecil dan menengah terpinggirkan. Sistem internasional yang stabil memerlukan konsultasi, inklusivitas, dan penghormatan terhadap keberagaman, bukan hierarki yang ditegakkan melalui paksaan.

Di era ketika risiko saling terkait dan tantangan dihadapi bersama, kepemimpinan yang bertanggung jawab tidak diukur dari dominasi atau keuntungan jangka pendek. Hal tersebut diukur dari apakah negara-negara besar dapat bertindak sebagai jangkar stabilitas, pembela aturan bersama, dan pembangun tatanan internasional yang lebih inklusif dan adil.

Pewarta: Xinhua
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |