Mengapa perlintasan Rafah sangat penting bagi penduduk Gaza

2 hours ago 2

Gaza (ANTARA) - Perlintasan darat Rafah yang menghubungkan antara Jalur Gaza dan Mesir kembali beroperasi pada Senin (2/2) setelah ditutup akibat putaran terbaru konflik Palestina-Israel, menandai perkembangan yang telah lama dinantikan untuk pergerakan masuk dan keluar dari Gaza.

Sebelum pecahnya perang, Rafah merupakan salah satu pos perlintasan utama di Gaza, terutama bagi penduduk yang ingin meninggalkan wilayah kantong tersebut. Pada saat itu, pos perlintasan tersebut dikendalikan dan dioperasikan oleh otoritas Mesir dan tidak berada di bawah kendali Israel.

Warga Palestina dilarang keluar dari Gaza via Israel kecuali mereka memperoleh izin keluar yang diterbitkan oleh Israel, menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dirilis pada September 2023, tepat sebelum pecahnya perang tersebut.

Laporan PBB tersebut menyebutkan bahwa hanya kategori tertentu dari warga, terutama pekerja harian, pedagang, pasien dan pendampingnya, serta pekerja bantuan, yang berhak mengajukan permohonan izin tersebut.

Pada Agustus 2023, sebelum perang, otoritas Mesir mengizinkan 19.608 orang untuk meninggalkan Gaza, imbuhnya.

Pada bulan yang sama, 12.076 truk muatan barang yang diizinkan masuk ke Gaza melalui pos pemeriksaan yang dikendalikan oleh Israel dan Mesir, dengan 37 persen di antaranya masuk ke Gaza melalui perbatasan Mesir.

Selama perang, militer Israel pada awal Mei 2024 menyatakan bahwa mereka telah memulai "operasi kontraterorisme yang presisi" di Kota Rafah dan telah mengambil alih "kendali operasional" atas pos perlintasan Rafah. Sejak saat itu, pos perlintasan tersebut tidak beroperasi.

Diperkirakan sekitar 80.000 hingga 100.000 warga Palestina menyeberang ke Mesir dari Gaza selama perang tersebut. Koresponden Xinhua bertemu dengan beberapa di antaranya di pinggiran Kairo, di mana warga Gaza membuka kembali restoran dan toko yang dulu mereka kelola di Gaza.

Warga Gaza sedang berada di dalam bus. (Xinhua)

Berdasarkan gencatan senjata yang disepakati pada Januari 2025, pos perlintasan Rafah dibuka kembali secara singkat untuk memungkinkan evakuasi pasien, sebelum ditutup kembali setelah gencatan senjata kolaps dan pertempuran kembali meletus pada Maret 2025.

Sebagai bagian dari perjanjian damai baru yang dicapai pada Oktober 2025, dan setelah sejumlah jenazah sandera Israel terakhir ditemukan dan dikembalikan ke Israel pada Januari lalu, pos perlintasan Rafah dibuka kembali dengan arus pejalan kaki yang terbatas.

"Pembukaan kembali perlintasan Rafah berarti mengembalikan kehidupan ke Jalur Gaza atau setidaknya menandakan dimulainya kembali kehidupan dan kembalinya ke keadaan normal, meskipun pergerakan masih terbatas," kata analis politik Palestina Akram Atallah kepada Xinhua.

"Ini bisa menjadi awal dari proses rekonstruksi, pemukiman kembali penduduk di dalam Jalur Gaza, dan kembalinya mereka yang terpaksa tinggal di luar negeri selama lebih dari dua tahun," kata Atallah.

Sebuah laporan PBB yang dirilis pada akhir Januari lalu menunjukkan bahwa lebih dari 18.500 pasien, termasuk 4.000 anak-anak, masih menunggu evakuasi medis di luar Gaza untuk mendapatkan perawatan yang tidak tersedia di wilayah tersebut.

Reziq Shomar, seorang pria Palestina dari Gaza City, mengatakan kepada Xinhua bahwa "sejak awal, perlintasan ini telah menjadi tulang punggung bagi penduduk Gaza, terutama bagi yang terluka dan sakit."

Sejumlah warga Gaza berada di kursi roda. (Xinhua)


"Saya salah satu korban terluka, dan saya berharap gerbang-gerbang perlintasan itu akan dibuka agar saya bisa mendapatkan perawatan. Kami ingin peralatan medis dapat masuk, dan kami ingin orang-orang dapat bepergian untuk mendapatkan perawatan," katanya

"Perlintasan ini adalah urat nadi kami," imbuhnya.

Bagi Om Ibrahim, seorang wanita Palestina dari Gaza City, dia menantikan reuni keluarga setelah pembukaan kembali perlintasan tersebut.

"Suami saya berada di luar wilayah Palestina, dan anak-anak saya berada di luar negeri. Saya menunggu pembukaan perlintasan itu dengan cemas," katanya. "Segalanya akan berubah total, semua orang menanti untuk berkumpul kembali dengan keluarga mereka."

"Saya menantikan perjalanan untuk menemui suami saya, sementara yang lain menunggu keluarga mereka kembali," tambahnya.

Sejumlah analis mengatakan bahwa pembukaan kembali perlintasan Rafah merupakan langkah positif yang dapat membantu meringankan penderitaan penduduk Gaza, namun mereka juga memperingatkan bahwa gencatan senjata masih rapuh dan masih banyak tantangan besar di depan.

Pewarta: Xinhua
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |