Menelisik perkara sampah di Jakarta Barat

2 weeks ago 13
Tertimpa buangan sampah adalah makanan sehari-hari para petugas kebersihan di rusun tersebut,

Jakarta (ANTARA) - Jakarta Barat masih dihadapkan pada tingginya timbulan sampah, yakni sekitar 807.966 ton per tahun. Namun, hanya 212.450 ton atau sekitar 26 persen yang dimanfaatkan kembali setiap tahun.

Belakangan ini, persoalan sampah di wilayah tersebut kembali menjadi sorotan. Meski tergolong “lagu lama”, viralnya tumpukan sampah di sejumlah titik membuat isu ini kembali ramai diperbincangkan.

Beberapa lokasi yang menjadi sorotan akibat viral di media sosial antara lain area luar Pasar Kopro di Grogol Petamburan, badan Jalan Kanal Banjir Barat, serta Rusun Angke di Tambora.

Di area luar Pasar Kopro pada Selasa (31/3) lalu misalnya, tumpukan sampah menggunung dan meluber hingga ke badan jalan. Tumpukan sampah itu sebagian besar berupa limbah rumah tangga, kantong plastik, karung, hingga kasur bekas.

Tak ayal, kawasan tersebut tampak kotor dan becek, mengeluarkan bau menyengat. Lantai di sekitarnya pun cenderung menghitam akibat cairan yang merembes dari tumpukan sampah.

Selain itu, terlihat beberapa gerobak yang penuh sampah berjejer, menandakan lokasi tersebut berfungsi sebagai tempat transit sebelum sampah diangkut.

Seorang pedagang di sekitar lokasi, Yahya, mengaku terganggu oleh aroma tak sedap sebelum sampah akhirnya diangkut oleh petugas.

Bahkan, menurutnya, keberadaan tumpukan sampah tersebut dapat menurunkan minat pelanggan untuk berbelanja.

Ia pun berharap persoalan penumpukan ini tidak terus dibiarkan dan segera diselesaikan secara permanen. Apalagi, kata dia, warga telah membayar iuran kebersihan setiap bulan.

Di lokasi lain, yakni kawasan Rusun Tambora, persoalan sampah bahkan lebih serius. Pasalnya, akibat tumpukan sampah, dinding warung seorang pedagang sayur di samping tempat pembuangan dilaporkan sempat roboh.

Menurut pengakuan Masruroh (67), tumpukan sampah di samping warungnya beberapa waktu lalu mengeluarkan cairan lindi yang merembes ke berbagai arah.

Belatung pun menggerogoti tumpukan tersebut akibat banyaknya sampah basah rumah tangga.

Puncaknya terjadi ketika sampah menumpuk hingga setinggi atap warung, sehingga tembok tempatnya berdagang roboh karena tak mampu menahan beban.

Kendati demikian, Masruroh tak punya pilihan selain bertahan, lantaran anak-anaknya hingga kini belum memiliki pekerjaan tetap. Ia tetap berjualan meski berada tepat di samping tumpukan sampah.

Baca juga: Pramono tanggapi keluhan warga soal sampah di kawasan RSCM

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |