Jakarta (ANTARA) - Dampak berkepanjangan dari krisis energi global akibat ketegangan menahun di Timur Tengah kini telah mencapai titik jenuh yang melelahkan bagi pasar keuangan.
Kondisi tersebut memaksa bank sentral Amerika Serikat mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lama, yang secara konsisten bertindak bak magnet raksasa menyedot modal keluar dari negara berkembang.
Likuiditas global yang terus mengering ini akhirnya merembet langsung ke Jakarta, memaksa nilai tukar rupiah tertekan hebat menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar. Gejolak moneter struktural tersebut nyatanya menimpa seluruh dunia, mulai dari tumbangnya Yen Jepang hingga tiarapnya Euro.
Di tengah kepungan badai yang disebut Super Dollar ini, muncul sebuah anomali besar di sektor pariwisata Indonesia yang gagal memanfaatkan momentum emas dari tingginya kurs dolar dunia untuk meraup devisa secara optimal.
Secara teori ekonomi makro, ketika nilai dolar melonjak tajam terhadap mata uang domestik, biaya berlibur di Indonesia bagi turis asing menjadi jauh lebih murah. Logika pasar seharusnya mencatat adanya ledakan belanja dan perpanjangan masa liburan dari para wisatawan mancanegara karena daya beli mereka meningkat berkali-kali lipat di dalam negeri.
Namun, situasi psikologis pasar yang makin goyah justru menyajikan realitas sebaliknya di tingkat akar rumput, di mana penurunan daya beli masyarakat lokal akibat inflasi barang impor justru diperparah oleh penurunan kualitas belanja turis asing.
Ironi ini menjadi alarm bahaya utama karena seluruh mesin pertumbuhan ekonomi dari sektor pariwisata nasional otomatis akan ikut terkunci ke dalam pusaran stagnasi yang mematikan jika kita terus-menerus gagal mengonversi penguatan dolar menjadi keuntungan nyata bagi kas negara.
Data Passenger Exit Survey yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) secara gamblang menelanjangi anomali ini melalui statistik pengeluaran rata-rata turis asing yang terus melorot tajam sejak 2021 hingga 2025. Tercatat pada tahun 2021, rata-rata pengeluaran wisman masih berada di angka 3.097 dolar AS, namun kemudian terjun bebas menjadi 1.448 dolar AS pada tahun 2022, melorot lagi ke 1.391,85 dolar AS pada tahun 2024.
Hingga laporan kuartal III-2025 yang dipublikasikan BPS, jumlah pengeluaran rata-rata wisman kembali merosot ke level 1.297,31 dolar AS, dibarengi dengan penyusutan rata-rata lama tinggal dari 9,88 hari menjadi hanya 7,60 hari.
Lembar data resmi ini membuktikan bahwa jargon pariwisata berkualitas yang gencar dikhotbahkan oleh pengambil kebijakan dari era Sandiaga Uno hingga Widiyanti Putri Wardhana baru sebatas narasi di atas kertas.
Baca juga: PHRI Bali waspadai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
Baca juga: Pengamat sebut rupiah melemah tak dongkrak kunjungan wisman di Bali
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































