Lombok Barat (ANTARA) - Kekeringan akibat kemarau selalu berulang setiap tahun di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang menyandang predikat sebagai salah satu lumbung beras nasional.
Para petani bakal menyaksikan bagaimana retakan tanah terjadi akibat terpanggang matahari di wilayah selatan pulau seluas 4.738 kilometer persegi tersebut. Air sungai terus menyusut, membuat mesin-mesin pompa menyala lebih lama untuk menyedot air tanah agar bisa membasahi lahan persawahan.
Sebagian petani bahkan lebih memilih menunda proses tanam ketimbang harus memikul beban kerugian akibat gagal panen. Tembakau dipilih selama periode musim kering karena tanaman itu hanya memerlukan sedikit air.
Pada saat yang sama, beberapa kilometer ke wilayah barat Pulau Lombok, air tawar mengalir deras dari dataran tinggi ke laut melalui Sungai Meninting yang berhulu pada kawasan lereng bagian barat Taman Nasional Gunung Rinjani.
Secara geografis dan klimatologi, lereng barat dan utara Gunung Rinjani menerima curah hujan lebih tinggi dibandingkan wilayah selatan. Faktor itulah yang menyebabkan mengapa daerah selatan seringkali kekurangan air.
Pemandangan kontras musim kemarau tentang distribusi air yang tidak merata berlangsung selama puluhan tahun, sehingga pemerintah berinisiatif membangun Bendungan Meninting di Desa Penimbung, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat.
Gagasan pembangunan dam raksasa tersebut sebetulnya sudah ada sejak era Orde Baru, namun baru terealisasi tiga dekade kemudian melalui Proyek Strategis Nasional (PSN).
Proyek itu masuk dalam program pembangunan puluhan bendungan yang dicanangkan pemerintah sejak 2015 untuk meningkatkan ketahanan pangan dan ketahanan air nasional.
Foto udara lanskap Bendungan Meninting di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Jumat (10/7/2026). ANTARA/HO-Sekretariat PresidenMenteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengatakan Bendungan Meninting mampu menampung air sebanyak 10 juta meter kubik per detik yang dapat dimanfaatkan untuk sepanjang tahun.
Lahan sawah yang semula hanya bergantung pada tadah hujan menjadi sawah yang bisa dialiri seluas 1.559 hektare dengan jaringan irigasi kurang lebih sejauh 26 kilometer.
Indeks pertanaman padi meningkat dari semula hanya satu kali panen menjadi tiga kali panen dalam setahun. Produktivitas padi juga bertambah menjadi 6,3 ton per hektare.
Bendungan Meninting memberikan ladang air baku sebanyak 0,15 meter kubik per detik yang meningkatkan cakupan pelayanan air minum bagi 100 ribu jiwa, mengurangi potensi banjir di wilayah Lombok Barat dan Kota Mataram, serta berpeluang menghasilkan energi listrik hingga destinasi pariwisata.
Secara historis, Bendungan Meninting yang memiliki tinggi 74 meter dengan panjang puncak 260 meter merupakan bendungan besar pertama yang dibangun di Pulau Lombok setelah era Bendungan Batujai di Lombok Tengah yang rampung pada 1982.
Bendungan bukan sekadar tumpukan dinding beton yang menahan laju sungai agar tidak langsung mengalir ke laut, melainkan sebuah upaya manusia dalam mengelola waktu. Air yang melimpah ruah selama musim penghujan ditampung oleh danau buatan agar kelak bisa dimanfaatkan saat musim kemarau datang.
Hutan adalah kunci
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































