Penelitian China dorong studi tentang kekejaman medis PD-II

3 hours ago 2

Beijing (ANTARA) - Para akademisi di seluruh dunia perlu mengakui dan mengkaji secara serius temuan-temuan penelitian terbaru mengenai Unit 731, unit perang biologis Jepang yang terkenal kejam pada masa Perang Dunia II, guna meningkatkan pemahaman sejarah dan mencegah terulangnya tragedi semacam itu.

Pernyataa itu berdasarkan sebuah studi yang dipublikasikan pada Senin (6/7) bertajuk "Penelitian global mengenai kekejaman medis Unit 731: dari tahun 1950-an hingga 2020-an" (Global research on Unit 731 medical atrocities: from the 1950s to the 2020s).

Makalah ini ditulis bersama oleh para akademisi dari Aula Pameran Bukti Kejahatan yang Dilakukan oleh Unit 731 Tentara Kekaisaran Jepang (Exhibition Hall of Evidences of Crime Committed by Unit 731 of the Japanese Imperial Army) di Harbin, China timur laut, dan Universitas Toronto. Makalah tersebut dipublikasikan dalam jurnal internasional Medical History.

Unit 731 merupakan basis penelitian perang biologis dan kimia yang sangat rahasia, yang didirikan sebagai pusat utama perang biologis Jepang di China dan Asia Tenggara selama Perang Dunia II. Sedikitnya 3.000 orang dijadikan objek eksperimen manusia yang dilakukan oleh Unit 731, dan lebih dari 300.000 orang di China tewas akibat senjata biologis Jepang.

Seorang peneliti di Aula Pameran tersebut sekaligus penulis koresponden makalah itu Yang Yanjun mengatakan bahwa Unit 731 merupakan contoh klasik dari degenerasi kedokteran dalam konteks perang.

Menurut dia, sangat penting bagi para akademisi, politisi, dan masyarakat dunia untuk mengingat, mencatat, memahami, serta merefleksikan hal tersebut. Namun, selama 80 tahun terakhir sejak berakhirnya perang, dunia di luar China dan Jepang masih relatif kurang menyadari kekejaman medis yang dilakukan oleh Unit 731.

Untuk memberikan gambaran umum mengenai penelitian Unit 731 dan mendorong kolaborasi internasional lebih lanjut, studi ini mengacu pada berbagai sumber yang luas, termasuk penelitian yang telah dipublikasikan, dokumen sejarah, dan laporan berita dari China, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, serta negara-negara Eropa, sehingga menawarkan pandangan komprehensif mengenai kejahatan medis, tanggung jawab, dan dampak pascaperang dari unit militer tersebut.

Meski mencatatkan berbagai pencapaian akademis penting di tingkat global selama beberapa dekade terakhir, kalangan akademisi Jepang menunjukkan penurunan minat penelitian terhadap Unit 731 dalam beberapa tahun terakhir.

Studi itu menyebutkan bahwa kondisi ini kemungkinan disebabkan oleh berkurangnya jumlah akademisi senior serta sentimen sosial yang masih bertahan dan enggan merefleksikan sejarah Perang Dunia II negara tersebut.

Penelitian lebih lanjut sangat dibutuhkan mengenai pemahaman sejarah, dampak pascaperang, refleksi pascaperang, dan dampak ekologis Unit 731, dan banyak penelitian China masih diabaikan oleh kalangan akademisi internasional, menurut kesimpulan studi tersebut.

"Saat ini, komunitas internasional telah banyak mengkaji Pengadilan Dokter dalam rangkaian Pengadilan Nuremberg serta kejahatan medis Nazi Jerman. Namun, kesadaran terhadap kekejaman medis Jepang pada masa perang masih belum memadai," ujar Yang.

Dia menyerukan kepada para akademisi di seluruh dunia untuk semakin meningkatkan ketelitian akademik dan objektivitas studi mengenai kejahatan medis yang dilakukan oleh Unit 731, serta membantu menumbuhkan pemahaman sejarah yang benar di kalangan komunitas internasional.

Pewarta: Xinhua
Editor: Imam Budilaksono
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |