Teheran (ANTARA) - Kantor Berita Fars, Selasa (14/4), melaporkan, peralatan komunikasi buatan AS dalam jumlah yang "signifikan" di negara itu mendadak berhenti berfungsi saat berlangsungnya serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Provinsi Isfahan di Iran tengah.
Laporan itu tidak menyebutkan serangan mana yang dimaksud. Namun, sebuah foto yang dipublikasikan bersama laporan tersebut memperlihatkan puing-puing pesawat Amerika yang hancur dalam operasi militer AS awal bulan ini yang dikabarkan bertujuan menyelamatkan pilot jet tempur yang jatuh.
Mengutip pengamatan di lapangan, laporan tersebut menyatakan peralatan tersebut mencakup produk buatan Cisco, Juniper Networks, dan Fortinet. Fars menyatakan perangkat-perangkat itu berhenti berfungsi bersamaan dengan serangan tersebut.
Laporan itu menggambarkan waktu terjadinya kejadian tersebut sebagai hal yang "mencurigakan" dan menyebut bahwa Iran pada saat itu tidak memiliki akses internet internasional, dengan gateway global diblokir atau tidak dapat diakses.
Fars mengatakan gangguan serentak itu menunjukkan tanda-tanda "sabotase mendalam" (deep-seated sabotage) yang ditanam di peralatan tersebut. Laporan itu mengutip keterangan dari sumber keamanan siber yang mengatakan laboratorium siber Iran akan segera merilis detail teknis dan bukti "koordinasi" antara pihak produsen dengan "musuh" AS dan Israel.
"Serangan ini menunjukkan bahwa tulang punggung keamanan siber suatu negara tidak boleh bergantung pada peralatan asing," kata laporan tersebut.
Serangan AS-Israel selama 40 hari terhadap Iran, yang dimulai pada 28 Februari, menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, beserta komandan militer senior dan lebih dari 3.000 warga sipil. Iran meresponsnya dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel dan aset-aset AS di Timur Tengah.
Gencatan senjata selama dua pekan antara Iran dan Amerika Serikat mulai berlaku pada 8 April. Perundingan panjang antara delegasi Iran dan AS kemudian digelar di Islamabad, tetapi gagal menghasilkan kesepakatan.
Pewarta: Xinhua
Editor: Michael Teguh Adiputra Siahaan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































