Komitmen DIY menjaga keberlanjutan batik sebagai warisan budaya

4 weeks ago 21
Batik bukan hanya warisan budaya, melainkan juga wajah Yogyakarta di mata dunia. Karena itu, pelatihan dan sertifikasi diharapkan mampu melahirkan sumber daya manusia yang kompeten, kreatif, dan mampu menghadirkan inovasi tanpa meninggalkan akar buda

Yogyakarta (ANTARA) - Batik bukan sekadar kain yang dihiasi corak atau motif dari lilin (malam) yang diproses dengan teknik khusus oleh para perajin. Lebih dari itu, batik merupakan identitas budaya bangsa yang memadukan nilai seni, pengetahuan, dan teknologi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Pengakuan dari UNESCO pada 2009 sebagai warisan budaya takbenda semakin mengukuhkan posisi batik sebagai salah satu kebanggaan Indonesia. Sejak saat itu, industri batik terus berkembang, baik dari sisi motif, teknik produksi, maupun pemanfaatannya sebagai produk ekonomi kreatif yang memiliki nilai budaya dan ekonomi sekaligus.

Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), perkembangan itu memiliki makna yang lebih mendalam. Sebagai daerah yang memiliki banyak sentra industri kecil dan menengah (IKM) batik yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota, Yogyakarta memikul tanggung jawab untuk memastikan batik tetap lestari sekaligus berkembang secara berkelanjutan.

Tanggung jawab tersebut semakin besar setelah Yogyakarta ditetapkan sebagai Kota Batik Dunia oleh World Crafts Council (WCC) pada 2014. Sejak saat itu, berbagai upaya terus dilakukan untuk menjaga keberlanjutan batik sebagai warisan budaya sekaligus sumber penghidupan masyarakat.

Menyiapkan Generasi Penerus

Salah satu tantangan terbesar dalam pelestarian batik adalah regenerasi. Menjawab tantangan itu, Pemerintah Daerah DIY bersama Balai Besar Kerajinan Batik memfasilitasi pelatihan dan sertifikasi profesi bagi para pelaku industri batik dengan melibatkan generasi muda.

Kepala Dinas Pariwisata DIY, Imam Pratanadi, mengatakan, pelatihan yang berlangsung hampir sepekan pada akhir Mei 2026 tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam menjaga keberlanjutan batik sebagai warisan budaya sekaligus memperkuat daya saing sektor ekonomi kreatif.

Pelatihan itu mengusung dua skema kompetensi, yakni perancangan motif batik dan pewarnaan alam. Puluhan peserta dari berbagai latar belakang mengikuti kegiatan tersebut dengan harapan dapat memperkaya khazanah batik Yogyakarta sekaligus menghadirkan inovasi baru yang tetap berakar pada tradisi.

Di Yogyakarta sendiri, batik berkembang melalui tiga teknik utama. Pertama, batik tulis yang dikerjakan secara manual menggunakan canting dan menuntut ketelitian tinggi. Kedua, batik cap yang memanfaatkan stempel tembaga bermotif untuk mencetak lilin cair pada kain sehingga menghasilkan motif yang presisi dalam jumlah lebih besar. Ketiga, batik printing yang menggunakan teknologi cetak modern untuk memproduksi berbagai motif.

Melalui pelatihan perancangan motif dan pewarna alam tersebut, pemerintah berharap kualitas sumber daya manusia di sektor batik terus meningkat. Upaya ini juga menjadi bagian dari penguatan ekosistem ekonomi kreatif di DIY.

Program tersebut merupakan kelanjutan dari kegiatan serupa pada bulan sebelumnya yang memberikan pelatihan dan sertifikasi profesi dalam skema pembuatan malam batik. Langkah ini diharapkan mampu mendorong inovasi dalam pengelolaan bahan baku sekaligus meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan.

Rangkaian program itu menjadi bukti nyata keseriusan DIY dalam mendukung pelestarian sekaligus pengembangan industri batik nasional agar mampu tumbuh adaptif terhadap perkembangan zaman dan kebutuhan industri kreatif modern.

Baca juga: Perempuan Giriloyo merawat batik tulis di tengah pasar modern

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |