Merawat kepercayaan dunia pada gula kelapa asal Banyumas

3 hours ago 2
Bagi Banyumas, mempertahankan reputasi sebagai pemasok utama gula semut dunia bukan sekadar menjaga angka ekspor. Di balik setiap butir gula kelapa terdapat harapan ribuan keluarga penderes yang menggantungkan hidupnya pada pohon kelapa.

Purwokerto (ANTARA) - Di balik manisnya gula kelapa asal Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, yang dinikmati konsumen di berbagai belahan dunia, tersimpan kerja keras ribuan penderes yang setiap hari memanjat pohon kelapa demi meneteskan nira berkualitas.

Namun di pasar global, rasa manis saja tidak cukup. Kepercayaan menjadi modal utama yang harus terus dijaga melalui kualitas, sertifikasi, tata kelola, hingga kolaborasi berbagai pihak.

Kabupaten Banyumas telah lama menjadi salah satu jantung industri gula kelapa Indonesia. Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono menyebut sekitar 90 persen kebutuhan gula semut dunia dipasok Indonesia, sedangkan sekitar 80 persen di antaranya berasal dari wilayah Banyumas Raya yang meliputi Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara. Dari kawasan inilah gula semut menembus pasar Asia, Eropa, Amerika Serikat, hingga Timur Tengah.

Kepercayaan pasar global itu kembali ditegaskan melalui pelepasan ekspor gula kelapa kristal atau gula semut senilai 46.000 dolar Amerika Serikat menuju Chicago, Amerika Serikat, dari pabrik PT Integral Mulia Cipta (IMC) di Desa Wiradadi, Kecamatan Sokaraja. Pabrik tersebut mengolah gula kelapa hasil produksi para petani Banyumas.

Namun, menurut Sadewo, mempertahankan pasar ekspor jauh lebih sulit dibandingkan membukanya.

Sadewo yang pernah berkecimpung sebagai pelaku ekspor bersama koperasi binaannya mengenang pengalaman pahit ketika empat kontainer gula semut yang dikirim ke Jerman pada masa pandemi COVID-19 ditolak karena hasil pengujian menunjukkan adanya campuran gula rafinasi.

Menurut dia, persoalan itu bukan berasal dari para penderes, melainkan diduga terjadi pada salah satu mata rantai perdagangan setelah produk dikumpulkan.

Peristiwa itu menjadi pelajaran penting bahwa satu kesalahan kecil dapat merusak kepercayaan yang dibangun selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, pembenahan koperasi, pengawasan rantai pasok, serta penguatan sertifikasi organik menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar.

Sertifikasi organik bahkan membawa manfaat ekonomi yang nyata. Melalui skema CSR Premium dari pembeli di Eropa, anggota koperasi yang telah mengantongi sertifikat organik memperoleh tambahan pendapatan sekitar Rp5.000 per kilogram gula semut. Insentif tersebut secara langsung meningkatkan penghasilan penderes sekaligus mendorong mereka terus menjaga mutu produk.

Baca juga: Mendag: Gula semut Banyumas berpeluang kuasai pasar dunia

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |