Gayo Lues, Aceh (ANTARA) - Suasana di Kampung Uyem Beriring, Kecamatan Tripe Jaya, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, tampak lebih sepi dari biasanya.
Puluhan rumah di wilayah itu tertimbun lumpur dan tersapu banjir pada akhir 2025, menyisakan jejak kerusakan yang masih amat terasa. Jalan kampung lengang, sebagian tertutup endapan tanah yang mengeras, sementara sejumlah bangunan kosong, ditinggalkan penghuninya sejak air bah datang tanpa permisi.
Ketika malam turun, suasana menjadi semakin sunyi. Aliran listrik belum sepenuhnya pulih. Gelap menyelimuti kampung, hanya ditembus cahaya lampu dari beberapa rumah yang masih berdiri.
Namun, kesunyian itu tak sepenuhnya hening. Selepas waktu maghrib, sekitar pukul 19.30 WIB, lantunan ayat suci Al-Quran mulai terdengar dari salah satu rumah warga. Malam tetap menjadi waktu belajar, bukan di ruang kelas, melainkan di ruang yang dihidupkan oleh suara mengaji.
Di ruang sederhana tersebut, anak-anak duduk bersila. Mushaf Al-Quran terbuka di hadapan mereka, diterangi cahaya lampu yang redup. Mata mereka mengikuti setiap bacaan dengan saksama, seolah dunia di luar ruangan berhenti sejenak.
Di antara anak-anak itu terdapat Fadlan, Ishar, dan Arafat, siswa kelas IV SDN Tripe Jaya. Sekolah mereka kini tak lagi bisa digunakan karena tertimbun lumpur yang mengeras. Bangunan yang sebelumnya menjadi tempat belajar sehari-hari berubah menjadi saksi bisu terjangan banjir.
Namun, kehilangan ruang kelas tidak menghentikan proses belajar mereka. Ketika siang hari diisi dengan membantu orang tua atau membersihkan sisa-sisa lumpur, malam hari menjadi waktu untuk kembali pada rutinitas yang paling mereka kenal.
Ayat demi ayat dilantunkan perlahan. Seorang ustaz memberi contoh bacaan, lalu anak-anak mengikutinya bersama-sama. Sesekali suara mereka meninggi saat membaca surat Al-Fatihah, dilantunkan dengan semangat yang nyaris menutupi kelelahan hari.
Bacaan itu mengalir. Kadang terbata, kadang serempak. Namun selalu diupayakan agar tetap utuh hingga akhir. Di sela lantunan ayat suci tersebut, hanya bunyi serangga dari balik hutan yang mengelilingi Kampung Uyem Beriring menemani malam, seolah menjadi latar sunyi bagi suara yang terus dijaga.
Baca juga: Kisah Hamzah, prajurit TNI yang kehilangan istri saat tangani bencana
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































