Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat kerja sama dengan Koalisi Bersama (KOBAR) Lawan Dengue, mitra-mitra regional, dalam Forum Regional Asia Tenggara pertama untuk pencegahan dan pengendalian Deman Berdarah Dengue (DBD) guna mencapai nol kematian pada 2030.
Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kemenkes Asnawi Abdullah mengatakan di Jakarta, Senin, bahwa penyakit DBD tidak mengenal batas negara, karena penyakit tersebut adalah masalah kesehatan yang terjadi karena iklim serupa di suatu wilayah, tingginya mobilitas, serta cepatnya laju urbanisasi.
"Faktor-faktor ini membutuhkan tak hanya respons secara nasional, namun juga kepemimpinan secara kolektif, penyelarasan kebijakan, dan kooperasi yang berkelanjutan di tingkat regional," katanya.
Dia mengatakan,pada 2024 Indonesia mengalami berbagai tantangan, seperti perubahan iklim, badai, dan fenomena El Nino, yang menyebabkan kasus DBD naik ke angka tertinggi sepanjang sejarah nasional, menjadi sekitar 92 kasus per 100 ribu orang.
Baca juga: Kemenkes ingatkan lonjakan risiko DBD saat puncak musim hujan
Asnawi mengatakan tingginya kasus ini menjadi sebuah tes yang menguji kemampuan dan ketahanan maksimal dari sistem kesehatan publik.
"Tapi di tahun 2025 kita melihat insidennya turun signifikan, menjadi 57 kasus per 100 ribu orang. Kesuksesan ini bukan sebuah kebetulan. Ini adalah hasil langsung dari pergeseran kita ke strategi yang proaktif dan adaptif terhadap iklim," katanya.
Penurunan insiden DBD itu, katanya, juga hasil dari perluasan akses ke teknologi serta vaksin.
"Kita semua sepakat bahwa kita tidak bisa mengatur cuaca, tapi kita bisa melindungi komunitas kita melalui aksi yang cerdas dan inovatif," katanya.
Selain itu, lanjutnya, kapabilitas fasilitas kesehatan serta gerakan komunitas, seperti Program Juru Pemantau Jentik (Jumantik), juga turut berkontribusi dalam penanganan DBD secara nasional.
Baca juga: Kemenkes luncurkan kampanye cegah DBD bangun kesadaran masyarakat
"Dengan memastikan angka fatalitas di bawah 0,5 persen seperti target nasional, Indonesia benar-benar melangkah ke tujuan kita, yakni nol kematian dengue pada 2030," katanya.
Meski demikian, katanya, DBD menjadi masalah serius di Asia dan Asia Tenggara adalah episentrum global untuk DBD, dimana banyak sekali manusia yang berisiko terkena penyakit itu.
"Tapi kita memasuki era baru inovasi. Mulai dari pengembangan (nyamuk) ber-Wolbachia hingga sistem peringatan dini yang canggih, kemampuan kita untuk melawan (DBD) tak pernah sehebat ini sebelumnya," ujarnya.
Dia berharap forum tersebut dapat membuahkan berbagai hasil yang dapat membantu mengembangkan kebijakan berbasis sains dan bukti di sektor kesehatan, guna masa depan Asia Tenggara yang bebas kematian akibat DBD.
Baca juga: Kemenkes: DBD ada di Indonesia sepanjang tahun, perlu diwaspadai
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































