Kemenekraf tegaskan peran arsitektur dalam mitigasi bencana

1 week ago 6

Jakarta (ANTARA) - Menteri Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya menegaskan peran arsitektur tidak hanya berfokus pada estetika, tetapi juga menjadi bagian penting dalam mitigasi bencana dan ketahanan nasional.

“Arsitektur juga kini bertransformasi dari seni merancang menjadi ilmu tentang keberlangsungan hidup. Melalui inovasi desain, arsitek dapat mengubah bahaya menjadi risiko yang terkelola," kata Teuku Riefky dalam keterangan tertulis yang diterima dan dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu.

Kementerian Ekraf menegaskan dukungannya terhadap penguatan peran arsitektur sebagai salah satu subsektor strategis yang mampu berkontribusi pada ketahanan ekonomi sekaligus menjawab tantangan global terkait bencana.

Baca juga: Menekraf sebut pedoman jasa kreatif untuk cegah persoalan hukum

Baca juga: Menekraf jajaki kolaborasi di bidang industri kreatif dengan Irlandia

Komitmen tersebut diwujudkan melalui kehadiran Menteri Ekraf pada International Disaster Resilience Workshop & Conference 2026 bertema Rethinking Architecture: Disaster Risk Reduction, Resilience & Recovery (DR3) di Banda Aceh, Jumat (17/4).

Forum arsitektur internasional ini mengangkat isu strategis terkait peran desain dalam menghadapi ancaman bencana alam serta proses rekonstruksi pascabencana.

Teuku Riefky menyatakan bahwa kehadiran pemerintah dalam forum ini merupakan bentuk komitmen mendorong inovasi serta karya berkualitas tinggi di bidang arsitektur sebagai bagian dari ekonomi kreatif nasional.

Ia menyebut, subsektor arsitektur menyerap sekitar 61.442 tenaga kerja dengan nilai PDB mencapai lebih dari 2,1 miliar dolar AS serta total investasi sekitar 22 juta dolar AS pada 2024.

Menurut dia, hal ini menunjukkan bahwa para arsitek di Indonesia memiliki peran penting dalam mendorong perekonomian nasional.

Lebih lanjut, Menteri Ekraf menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif, termasuk kerja sama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).

Sebagai informasi, kegiatan yang bertempat di Hermes Palace Hotel, Banda Aceh tersebut menjadi forum global untuk membahas pengurangan risiko, penguatan ketangguhan, serta pemulihan berbasis pendekatan arsitektural.

Konferensi ini juga menandai penyelenggaraan perdana agenda Union Internationale des Architectes (UIA) di Indonesia sejak organisasi tersebut berdiri pada 1948.

Banda Aceh ditunjuk sebagai tuan rumah tanpa proses bidding. Keputusan ini mempertimbangkan posisi Aceh sebagai contoh nyata praktik ketangguhan dan pembangunan kembali pascabencana yang diakui secara internasional.

Baca juga: Menekraf nilai potensi aset kripto jadi modal akselerasi kreator ekraf

Baca juga: Menekraf dukung Kendari jadi pusat ekraf baru di Asia Pasifik

Baca juga: Menekraf sebut IP valuator berperan penting perkuat ekosistem ekraf

Pewarta: Adimas Raditya Fahky P
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |