Cirebon (ANTARA) - Mahabatis (28) tak perlu absen ke kantor atau antre gajian tiap akhir bulan. Hidupnya digerakkan lewat sinyal internet, laptop, dan ide-ide yang diolah jadi produk kreatif.
Sejak akhir 2024, ia sudah menekuni kerja di industri digital dan mencoba merakit pemasukan dari sektor kreatif di Cirebon, Jawa Barat.
Hari-harinya diisi dengan menjual aset digital, mengajar sebagai trainer lepas, hingga jadi afiliasi toko daring. Semua dilakukan demi memastikan ada cuan masuk ke kantongnya.
“Pendapatan dari freelance ini sebenarnya cukup, tetapi belum bisa memenuhi semua kebutuhan. Jadi tetap harus ada pekerjaan utama,” kata Mahabatis sambil tersenyum tipis saat berbincang dengan ANTARA di Cirebon, Kamis.
Ia bercerita penghasilan dari menjual aset digital seperti ilustrasi atau worksheet hanya berkisar Rp200-Rp300 ribu. Jumlah yang diakuinya belum banyak, tapi cukup untuk menutupi kebutuhan mendesak.
Di Cirebon, ia melihat industri digital kreatif berkembang cukup pesat. Banyak teman-temannya bekerja di media agensi, atau menjadi kreator konten. Pasarnya ada, meski persaingannya sangat ketat.

“Karena semua orang bisa melakukannya, kita harus bisa menawarkan sesuatu yang beda,” ujarnya.
Tantangan itu, kata dia, membuat penghasilan mereka kerap naik-turun, bergantung pada klien dan algoritma.
Kondisi ini menjadikan para pekerja digital seperti Mahabatis rentan, terutama ketika lelah bekerja (burn out) dan berujung sakit.
Baca juga: "Dokter mata" itu kusebut Jaminan Kesehatan Nasional
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.