Iran bantah klaim soal transfer uranium ke negara ketiga

2 weeks ago 18

Teheran (ANTARA) - Kantor berita semiresmi Iran, Fars, pada Jumat (5/6) membantah laporan dari jaringan televisi milik Arab Saudi, Al Arabiya, yang menyebutkan bahwa Teheran telah menyetujui pemindahan uranium yang telah diperkaya ke negara ketiga.

Mengutip sumber yang dekat dengan tim negosiasi Iran, Fars mengatakan bahwa isu-isu nuklir pada dasarnya tidak termasuk dalam agenda pembicaraan antara Teheran dan Washington saat ini yang bertujuan untuk mengakhiri perang, dan hanya akan dibahas pada tahap-tahap berikutnya.

Bantahan tersebut dilontarkan setelah laporan sebelumnya yang menyebutkan bahwa Iran telah memberi tahu Pakistan mengenai kesediaannya untuk memindahkan sebagian uranium yang telah diperkaya ke negara ketiga.

Sumber tersebut menegaskan bahwa pemindahan semacam itu tidak sedang dibahas dalam perundingan, seraya menambahkan bahwa Amerika Serikat (AS) harus terlebih dahulu mengambil langkah-langkah yang "jelas dan pasti" sebelum "kesepakatan final mengenai sejumlah isu mendasar" dapat dicapai.

Foto arsip ini, yang diambil pada 3 Juli 2017, menunjukkan kapal induk AS USS George H.W. Bush di dekat pelabuhan Haifa, Israel. (Xinhua/JINI/Nimrod Glikman)

Sementara itu, militer Iran pada Jumat menyatakan bahwa angkatan lautnya melepaskan tembakan peringatan ke arah dua kapal perusak AS, DDG-103 dan DDG-87 dari gugus tempur kapal induk USS George H.W. Bush di Teluk Oman, dengan menggunakan rudal jelajah "Qadir" dan drone "Shahid Dana".

Dalam sebuah pernyataan yang dipublikasikan di situs web resminya, militer Iran mengatakan bahwa kedua kapal perusak tersebut kemudian pergi menuju Samudra Hindia.

Militer Iran menggambarkan operasi tersebut sebagai bagian dari kampanye berkelanjutan Iran untuk melawan "tindakan jahat dan gangguan maritim serta pembajakan kapal komersial dan kapal tanker minyak oleh angkatan laut tentara teroris AS."

Sementara itu, Komando Pusat (Central Command/CENTCOM) AS membantah bahwa insiden tersebut terjadi, menyatakan bahwa pasukan Iran tidak melepaskan tembakan ke kapal-kapal perang Angkatan Laut AS.

Menyusul gencatan senjata yang berlaku antara Iran, AS, dan Israel pada 8 April setelah 40 hari pertempuran, Teheran dan Washington memulai proses diplomatik dengan mediasi Pakistan guna mengakhiri perang. Dalam beberapa pekan terakhir, kedua pihak telah saling bertukar usulan rencana, menguraikan syarat-syarat untuk mewujudkan perdamaian, dan tengah berupaya untuk memfinalisasi nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU).

Iran memperketat kendalinya atas Selat Hormuz dengan melarang kapal-kapal yang dimiliki atau berafiliasi dengan Israel dan AS untuk melintas dengan aman, menyusul serangan gabungan AS-Israel terhadap wilayah Iran. AS juga memberlakukan blokade laut di Selat Hormuz, mencegah kapal-kapal yang berlayar menuju dan dari pelabuhan-pelabuhan Iran melintasi jalur perairan itu. Selesai

Pewarta: Xinhua
Editor: Martha Herlinawati Simanjuntak
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |