Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti mendorong pemerintah memperkuat insentif untuk peningkatan produksi kedelai domestik guna mendukung ketahanan pangan dan keberlanjutan industri tahu-tempe nasional.
Ia mengatakan kebijakan insentif akan lebih optimal apabila diarahkan pada penguatan sektor produksi dan penciptaan lapangan kerja.
“Jika ingin memberikan insentif sebaiknya untuk kegiatan yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan sehingga masyarakat punya income dan meningkatkan daya beli,” kata Esther kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Menurut dia, penguatan produksi kedelai dan komoditas pertanian lain di dalam negeri dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor sekaligus memperkuat fondasi swasembada pangan nasional.
“Jika ingin memberikan subsidi maka berikan insentif untuk peningkatan produksi kedelai dan komoditas pertanian lainnya, bukan tergantung kedelai impor,” ujarnya.
Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Pangan telah memutuskan memberikan subsidi kedelai sebesar Rp2.000 per kilogram (kg) melalui Perum Bulog untuk tahap awal sebanyak 250 ribu ton guna menjaga stabilitas harga kedelai di tengah pelemahan rupiah dan tingginya ketergantungan impor komoditas tersebut.
Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan, rata-rata harga kedelai impor secara nasional tercatat Rp13.722 per kg pada Kamis (11/6), naik tipis dibandingkan satu hari sebelumnya Rp13.705 per kg.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan subsidi tersebut diharapkan dapat menjaga stabilitas harga kedelai agar tidak membebani perajin tahu-tempe maupun masyarakat. Pemerintah memperkirakan kebutuhan anggaran subsidi tahap awal tersebut mencapai sekitar Rp500 miliar.
Lebih lanjut, Esther menilai peningkatan produksi pangan domestik diperlukan guna membantu menjaga stabilitas harga pangan apabila didukung distribusi yang lancar.
“Jika produksi komoditas pertanian melimpah dan distribusinya lancar maka tidak akan trigger untuk inflasi pangan,” tuturnya.
Ia mengatakan penguatan sektor produksi pangan domestik juga akan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas karena mampu menciptakan lapangan kerja baru di sektor pertanian dan industri pengolahan pangan.
Menurut Esther, kebijakan penguatan produksi kedelai domestik juga sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat swasembada pangan nasional dan mengurangi tekanan terhadap impor bahan baku pangan strategis.
Selain itu, ia menilai penguatan produksi dalam negeri dapat membantu menjaga stabilitas harga pangan dalam jangka panjang di tengah tantangan fluktuasi nilai tukar rupiah dan dinamika rantai pasok global.
Esther menambahkan langkah peningkatan produksi komoditas pertanian dalam negeri perlu diikuti penguatan distribusi, produktivitas petani, serta dukungan infrastruktur pangan agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat dan pelaku usaha.
Di sisi lain, pemerintah terus mendorong penguatan produksi pangan domestik melalui peningkatan produktivitas pertanian dan penguatan sarana produksi untuk mendukung target swasembada pangan nasional.
Komisi IV DPR RI dalam rapat dengan Kementerian Pertanian pada 10 Juni 2026 mendukung penguatan anggaran Kementerian Pertanian tahun 2027 melalui pagu indikatif Rp23,23 triliun serta usulan tambahan anggaran Rp22,43 triliun guna mempercepat program swasembada pangan dan ketahanan pangan nasional.
Tambahan anggaran tersebut antara lain diarahkan untuk peningkatan produksi komoditas strategis, hilirisasi perkebunan, pengembangan ternak, produksi benih sumber, penguatan penyuluhan dan pelatihan pertanian, serta pendidikan pertanian.
Hasil rapat tersebut juga menilai peningkatan produksi komoditas pangan strategis penting dilakukan untuk mengurangi ketergantungan impor, termasuk kedelai dan bawang putih.
“Sesuai dengan arahan Bapak Presiden Prabowo Subianto, Kementerian Pertanian ditugaskan untuk segera meningkatkan produksi komoditas pangan strategis yang selama ini masih bergantung pada impor dalam pemenuhan kebutuhannya di dalam negeri,” kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Baca juga: CORE nilai subsidi kedelai efektif redam tekanan biaya produksi
Baca juga: Kepala Bapanas: Izin usaha dicabut bila naikkan harga kedelai impor
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































